Saturday, 29 April 2017

Towel Pantat Bini Tetangga Leher Kakek Disayat Pedang

Minggu, 8 Januari 2017 — 8:21 WIB
pedang

MBAH Murtaji, 52, sudah jadi kakek masih perturutkan hawa nafsu. Lihat pantat bini tetangga yang masih kenthel, main towel saja. Jika Ny. Lilik, 25, ridla tentu tak jadi masalah. Ternyata dia ngadu ke suami, dan Hendro, 32, naik pitam. Langsung saja leher Mbah Murtaji disayat pedang sampai berdarah.

Mulut cal-cul (ceplas-ceplos) atau tangan mak-mek (asal pegang) sering membahayakan bagi pelakunya. Sebab jika pihak yang dicolek ataupun dikata-katai tidak terima, bisa ngamuk. Mending jika hanya dibalas dengan kata-kata. Di banyak kejadian, golok pun ikut bicara. Maka benar kata pepatah lama: mulutmu adalah harimaumu.

Mbah Murtaji, warga Pungging, Kabupaten Mojokerto, agaknya tak menyadari hal itu. Meski usia sudah kepala lima, dia masih memperturutkan hawa nafsu. Begitu juga pada kaum wanita, atensinya masih tetap tinggi, terutama yang cantik menawan tentunya. Lagaknya jadi seperti anak muda saja. Sungguh ora ngoman-omani (serakah).

Meski rambutnya sudah mulai meninggalkan dunia hitam, asal melihat perempuan cantik langsung mbagusi (sok gaya). Wajahnya berseri-seri, seperti PNS dapat gaji ke-13. Seakan lupa bahwa umurnya terus merayap naik, dia berusaha menggoda perempuan itu, dengan kata-kata seronok. Tetangga yang sudah hafal akan kelakuan Mbah Murtaji, maklum saja. Sepanjang menggoda dengan mulutnya yang “lambe turah”, biarkan saja.

Diam-diam Mbah Murtaji ternyata punya perhatian istimewa pada Ny. Lilik, bini Hendro yang juga tetangga sendiri. Perempuan ini di samping cantik, bodinya memang nampak sekel nan cemeke. Asal melihat si dia pikirannya melantur ke mana-mana, memikirkan yang ngeres-ngeres. “Andaikan aku masih muda, satu putaran pasti kena,” kata Mbah Murtaji, yang ternyata juga mampu mengukur diri.

Karena itulah rasa ketertarikan pada Ny. Lilik hanya terbatas pada kata-kata dan mata, karena secara hukum belum termasuk penistaan istri orang, apa lagi makar. Untuk berbuat lebih dari itu, misalnya meniru Bupati Katingan (Kalteng), Mbah Murtaji belum berani, Maksudnya, mengawin siri perempuan yang masih jadi bini orang.

Tapi pada kejadian beberapa hari lalu sungguh di luar dugaan. Ketika dia sedang mengontrol piaraan burung dara, tiba-tiba Lilik mendekat ingin melihat burung dara yang baru saja menetas. Saat Ny. Lilik asyik melihat ke dalam pegupon (sangkar), tahu-tahu tangan Mbah Murtaji terpancing untuk mentowel pantat Lilik yang masih kentel itu.

Ny. Lilik meninggalkan kandang burung sambil ngomel-ngomel, sementara Mbah Murtaji hanya nyengenges saja tanpa merasa bersalah. Setibanya di rumah Lilik mengadu pada suaminya, bahwa baru saja menjadi korban pelecehan seksual oleh Mbah Murtaji. “Main towel pantat saya, memangnya saya perempuan apaan.” Kata Lilik.

Hendro marah betul bininya ditowel-towel orang. Kalau Mbah Murtaji kondektur bis sedang minta ongkos, bisa memaklumi. Tapi dia kan bukan itu. Maka dia langsung saja ambil pedang dan mencari si kakek genit. Begitu ketemu langsung saja pedang itu ditempelkan ke leher Mbah Murtaji. Maksudnya buat menakut-nakuti, tapi sikakek malah bergerak salah, akhirnya tersayat juga. Tak urung jadi urusan polisi, sementara Mbah Murtaji dilarikan ke rumah sakit.

Pasalnya percobaan pembunuhan atau perbuatan tidak menyenangkan? (JPNN/Gunarso TS)