Wednesday, 18 October 2017

Belajar Bijak dari Pedagang Kecil

Senin, 9 Januari 2017 — 8:17 WIB

SAAT ini masyarakat Indonesia, terutama kalangan ekonomi menengah ke bawah, tengah menghadapi berbagai tekanan menyusul naiknya sejumlah tarif dan harga kebutuhan hidup. Kenaikan mulai dari tarif listrik, biaya pengurusan surat kendaraan, hingga harga cabe rawit merah. Terakhir, Minggu (8/1), harga cabe rawit merah masih di kisaran Rp110 ribu/Kg.

Meski cabe rawit bukanlah makanan pokok, keberadaannya di meja makan keluarga Indonesia seolah sudah menjadi santapan ‘wajib’. Daging, telur, boleh saja tidak tersedia, tapi sambal tidak boleh absen. Begitu kira-kira untuk menggambarkan peran cabe dalam rumah tangga rata-rata orang Indonesia.

Tak heran ketika harga cabe melonjak gila-gilaan seperti saat ini, masyarakat pun menjadi resah. Mereka menginginkan harga cabe bisa kembali normal.

Namun, sembari menunggu harga cabe kembali seperti semula, warga tak pernah kehilangan akal untuk menyiasatinya. Seperti dilakukan oleh Suryanti, pemilik warung Tegal (warteg) di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Demi pelanggannya tetap bisa merasakan nikmatnya sambel tanpa harus merogoh kocek lebih dalam akibat naiknya harga cabe, Suryanti punya kiat. Dia memilih menyajikan sambal dengan memperbanyak tomat agar warnanya tetap merah.

Agus Hanip, pengelola RM Simpang Ampek di Jl. Prapanca Raya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, lain lagi. Ia lebih memilih mengurangi keuntungannya daripada membebani masyarakat atau pelanggannya dengan ikut-ikutan menaikkan harga dagangannya. “Nggak enak ke pelanggan jika kami menaikkan harga, apalagi semuanya lagi pada naik,” katanya.
Kita bangga dan mengapresiasi atas apa yang dilakukan Suryanti dan Agus Hanip. Mereka memang cuma pedagang kecil, tetapi keduanya punya jiwa besar. Mereka rela berkurang keuntungannya demi pelanggan.

Hal yang sama sebenarnya kita harapkan dilakukan oleh pemerintah, para pejabat pengambil kebijakan, atau pengusaha.

Jangan malas mencari jalan keluar dari tekanan dengan sedikit-sedikit merongrong kantong rakyat, naikkan tarif ini, tarif itu. Tidak ada salahnya dan tak usah malu belajar bijak dari para pedagang kecil kita yang terbukti memiliki solidaritas tinggi di kala tekanan ekonomi menghimpit mereka. ^^