Thursday, 25 May 2017

‘Cahaya Cinta Pesantren’ Menguak Kehidupan Santri

Selasa, 10 Januari 2017 — 7:03 WIB
Yuki Kato berperan sebagai Shilla, gadis Batak berjilbab dalam film gresnya Cahaya Cinta Pesantren. (ist)

Yuki Kato berperan sebagai Shilla, gadis Batak berjilbab dalam film gresnya Cahaya Cinta Pesantren. (ist)

JAKARTA (Pos Kota) – Film drama remaja religi Cahaya Cinta Pesantren siap bersaing di industri bioskop tanah air pada pertengahan Januari tahun 2017. Artis remaja Yuki Kato disulap jadi gadis Batak dan fasih melafalkan bahasa Batak.

Selain Yuki Kato, bintang lainnya adalah Febby Blink, Silvia Blink, Vebby Palwinta, Rizky Febian, Fachri Muhammad, Elma Theana, Tabah Penemuan, Zeezee Shahab, Wirda Mansur. Film arahan sutradara Raymond Handaya ini siap tayang setelah menjalani proses suting yang cukup lama, yaitu sejak awal tahun 2016 lalu.

Diangkat dari novel dengan titel yang sama karya Ira Madan, film yang diproduseri Ustaz Yusuf Mansur dan Harianto Tian dari rumah produksi Fullframe Pictures ini memberikan kisah yang menggugah dan inspiratif.

Jika selama ini hanya kehidupan remaja anak SMA yang banyak dieksploitasi dalam industri film, namun kehidupan remaja di pesantren juga bisa dimunculkan. “Kehidupan pesantren ternyata sangat menarik apalagi jika diadopsi jadi film, hanya tinggal digarap dengan konsep yang lebih menarik,” ungkap Raymond, sutradara saat sesi screening di Epicentrum XXI Kuningan Jaksel, Senin (9/1).

Kisah seorang anak nelayan di danau Toba bernama Shila atau lengkapnya Marshila Silalahi (Yuki Kato) gadis remaja yang ingin melanjutkan sekolah ke SMA Negeri favorit, namun tidak lulus. Akhirnya atas bujukan ayahnya (Tabah Penemuan), jadilah Shila santri di Pesantren.

Lingkungan pesantren yang disiplin, jadwal pelajaran dan kegiatan yang padat, membuat Shila tak betah. Dia bersahabat dengan Manda ( Febby Rastanty), Aisyah (Sivia Azizah) dan Icut (Vebby Palwinta). Tapi dengan Manda, Shila merasa paling dekat. Karena keduanya tidak betah tinggal di pesantren, akhirnya mereka kabur dari pesantren.

Tapi takdir membawa mereka berdua kembali ke pesantren itu. Manda mantap untuk menjadi santri di situ. Tapi Shila, masih ragu.

Selain urusan pelajaran, sebagai gadis yang tengah puber, Shila pun berurusan dengan perasaan. Ia jatuh hati pada Rifqy (Fachri Muhammad), santri senior. Shila berusaha menjalani kehidupan pesantren di tengah bermacam konflik. Mulai dari konflik yang membuat persahabatannya berantakan, kepergian orang yang ia sayangi, hingga dia sempat diancam akan dikeluarkan dari pesantren.

Namun justru situasi seperti itulah yang membikin dia mulai jatuh hati pada dunia pesantren. Shila berhasil melalui itu semua, karena pesan ayahnya sebelum ia berangkat ke pesantren: Kalau kita mencintai segala sesuatu karena Allah, maka kita tidak akan pernah kenal yang namanya kecewa atau sakit hati.

“Inilah film tentang pendidikan, sosial dan cinta. Cerita keluarga, Persahabatan, romantisme dan seluk beluk anak-anak muda yang menempuh pendidikan di pesantren,” terang Raymound lagi.

Cahaya Cinta Pesantren mengambil kearifan lokal dari tanah Sumatera Utara. Keindahan danau Toba juga tersaji dalam film ini.

“Saat membaca novel milik Ira Madan, saya tertarik karena ternyata pesantren itu seru, banyak menyimpan cerita-cerita menarik yang orang tidak tahu, tapi penuh edukasi,” ujarnya.

Sementara itu, bagi Yuki Kato, sejak suting memerankan tokoh Shila, dia mengaku mulai membiasakan diri mengenakan hijab. “Terutama berkaitan dengan promosi film ini. Padahal dulu saya ngga bisa mengenakan hijab. Bahkan saya mengenakan hijab tangan saya berkali-kali ketusuk jarum pentul sampai berdarah he he.. “

“Selain itu, saya sedikit-sedikit bisa bahasa Batak, terutama tekanan-tekanan nadanya atau intonasinya khas Batak dan Melayu Medan,” ungkapnya.

Ini menjadi nilai positif bagi gadis kelahiran 2 April 1995 itu karena bisa sekaligus menjadi latihan untuk mewujudkan keinginannya, berhijab selamanya. “Doakan ya,” tuntas Yuki. (ali)