Saturday, 19 August 2017

Doa Sebelum Digusur

Selasa, 10 Januari 2017 — 5:40 WIB

Oleh S Saiful Rahim

“Astaghfirullah, ke mana saja kau, Dul? Sebulan lebih aku tidak melihat batang hidungmu di warung ini,” kata seorang hadirin di warung kopi Mas Wargo ketika Dul Karung nongol setelah lebih dulu keluar ucapan assalamu alaykum lewat lidahnya yang fasih, dan disambut ucapan waalaykum salam oleh hadirin yang lain.

“Iya ya. Sejak ujung tahun lalu sampai minggu kedua tahun baru si Dul tidak ngutang di warung ini,” sambar orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang. Satu-satunya tempat duduk bagi para pelanggan warung kopi tersebut.

“Ah, masak si Dul kau bilang ngutang? Ngutang kan artinya pake kutang. Emangnye dia kau anggap cewek?” tanggap orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang, mengundang tawa banyak hadirin.

“Sudahlah! Jangan berisik! Sudah ganti tahun, kelakuan masih juga belum berubah,” bentak Dul Karung sambil mencomot singkong goreng yang masih kebul-kebul.

“Jadi kau sudah mengubah kelakuan ya? Artinya sekarang kau tidak akan berutang lagi di warung ini?” tanggap orang yang menggeser duduknya memberi Dul Karung tempat duduk.

“Mau minum apa, Dul? Tetap teh manis atau ganti minuman lain?“ sela Mas Wargo, mencegah ejek mengejek berkepanjangan.

“Tahun boleh berganti, Mas. Tapi minuman tetap teh manis sampai akhir hayat,” jawab Dul Karung dengan nada dan semangat tinggi, membuat Mas Wargo tersenyum.

“Ngomong-ngomong ke mana saja kau, Dul. Sebulan penuh tidak datang ke warungku. Ada yang hambar rasanya. Kayak sayur kurang garam,” kata Mas Wargo lagi sambil menyodorkan teh manis dengan senyum yang, boleh dibilang, manis pula.

“Di rumah saja, Mas. Belajar merenung,” jawab Dul Karung.

“Waduh kayak sufi saja,” sela seseorang entah siapa dan yang duduk di mana.

“Saya merenungi negara dan pemimpin kita. Kok dari tahun ke tahun korupsi bukan berkurang, tetapi kian rame. Seakan-akan pemimpin yang belum korupsi belum merasa sah kepemimpinannya, Mas.”

“Hussy! Jangan ngomong sembarangan! Nanti kau dituduh penyebar hoax,” kata Mas Wargo membuat Dul Karung dan hadirin lainnya agak heran juga. Karena biasanya pemilik warung kopi itu tak suka ikut campur obrolan para pelanggannya.

“Hoax itu apa Mas?” tanya orang yang duduk tepat di kanan Dul Karung.

“Hopeng mabuk arak,” jawab orang yang duduk di sebelah sang penanya itu, membuat tawa hadirin mendadak meledak.

“Perasaanmu sama dengan yang aku rasakan Dul,” kata orang yang duduk selang tiga di kiri Dul Karung.

“Kebanyakan pemimpin sekarang ini kalau sudah memangku suatu jabatan, lalu mengangkat sanak famili atau handai tolannya jadi pejabat juga. Kemudian mereka bergotong royong atau berlomba-lomba korupsi,” sambung orang itu.

“Atau kalau kekuasaannya di tingkat kota, beliau menggusur penduduk dengan dalih membangun kota. Setelah kampung dan kebun-kebun penduduk diubah jadi bangunan beton setinggi awan yang dana pembangunannya dijadikan ladang subur korupsi juga, beliau kebingungan karena kota yang layak huni harus punya areal hijau. Maka kalang kabutlah beliau membangun taman-taman kota dengan nama yang keren-keren padahal hakikatnya bertani. Kerja yang semula diremehkan dan dianggap kampungan,” sambar orang yang duduk tepat di sisi kanan Dul Karung dan kelihatan terpelajar.

“Benar apa yang ditulis David Harvey dalam buku “Rebel Cities: From The Right to the City to the Urban Revolution,” bahwa praktik perkotaan kini laksana predator ekonomi yang melakukan apa saja yang dia anggap benar. Si miskin penghuni kampung dan lahan milik negara digusur keluar kota. Areal yang dikosongkan itu dianggap lebih baik digunakan oleh orang kaya pemilik modal untuk kegiatan ekonomi kelas tinggi,” sambung orang yang tampak terpelajar itu.

“Ya Allah, selamatkanlah hamba-Mu yang satu ini dari petaka neraka dunia yang seperti dikatakan orang pandai tadi,” gumam Dul Karung seraya meninggalkan warung. (syahsr@gmail.com )