Tuesday, 12 December 2017

Seni Domba Tangkas yang Tetap Digemari

Selasa, 10 Januari 2017 — 23:25 WIB
H Latief bersama bobotoh di Pamidangan Langgeng Anom usai penyelenggaraan turnamen domba tangkas. (dadan)

H Latief bersama bobotoh di Pamidangan Langgeng Anom usai penyelenggaraan turnamen domba tangkas. (dadan)

PURWAKARTA (Pos Kota) – Seni domba tangkas yang juga kerap dijuluki adu domba cukup populer di masyarakat di Purwakarta, Jawa Barat.

Penyelenggaraan ini tentunya tak lepas dari peran Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia (HPDKI) Cabang Purwakarta yang giat melestarikan kesenian Domba Tangkas dengan menggelar berbagai kegiatan dan even secara rutin.

Teranyar, HPDKI menggelar Turnamen Kesenian Domba Tangkas di Pamidangan (arena) Langgeng Anom, Sempurnunggal, Desa Linggasari, Kecamatan Darangdan, Purwakarta.

“Istilah tangkas ini lebih diarahkan pada seninya. Penilaian lebih dititikberatkan pada adeg-adeg (postur, jingjingan, ules, warna bulu,corak atau motif bulu), keindahan pengambilan ancang-ancang, pola serangan atau teknik gedugan (pukulan), teknik menghindar, dan hal-hal lain yang menyangkut estetika,” jelas Pemilik Pamidangan Langgeng Anom H Nazaruddien Latief kepada Pos Kota, seusai turnamen domba tangkas, kemarin.

Diungkapkan dia, turnamen Domba Tangkas ini, biasanya digelar dua hari pada akhir pekan, yaitu Sabtu dan Minggu. “Sedikitnya diikuti 150 pasang domba mulai pukul 08.00 dampai dengan 17.00,” jelasnya.

Sedangkan turnamen dibagi ke dalam tiga kelas mengacu pada berat dan pengalaman berlaga domba. Yakni kelas A, B dan C.

“Turnamen kelas B dan C kita gelar pada Sabtu, sedangkan Minggu khusus untuk kelas A. Ada pun untuk jurinya langsung kita datangkan dari HPDKI Pusat agar lebih fair,” ujarnya.

Sedangkan turnamen Kesenian Domba Tangkas sendiri terbagi empat jenis, yakni Ngaben, Doorprize, Lakbar, dan Kontes.

“Ngaben bertujuan untuk melatih domba pemula. Sedangkan Doorprize menyaring domba yang mampu melakukan 20 gedugan. Kemudian, domba yang sukses melakukan 20 gedugan namanya akan ditulis pada kertas dan dikocok. Nama domba yang keluar dari kocokan tersebutlah yang dinyatakan pemenang Doorprize,” katanya.

Sementara Lakbar khusus bagi domba yang sudah berpengalaman. “Saat di arena, domba masih boleh dipegang bobotoh atau orang yang dipercayakan melatih dan mendampingi domba di arena,” ujar Latief.

Ada pun kontes, lanjut Latief, adalah turnamen sesungguhnya. Di mana domba harus memenuhi penilaian estetika sepenuhnya. “Pada saat memasuki arena, domba tak disertai bobotoh. Jadi dombanya sudah siap, sudah benar-benar berpengalaman,” kata dia.

Menurutnya, Kesenian Domba Tangkas akan terus langgeng apabila benar-benar dijadikan hobi. “Jangan sampai mengikuti turnamen karena alasan untuk berbisnis. Ini sudah jauh menyimpang dari nilai seni pada Domba Tangkas,” pesan dia.

Kokolot Seni Domba Tangkas Purwakarta Abah Pian menambahkan seekor domba tangkas bisa bernilai tinggi. “Seekor domba juara bisa dihargai hingga Rp220 juta, sementara anak domba juara yang baru lahir harganya bisa mencapai Rp 4 jutaan,” pungkasnya. (dadan)