Saturday, 25 March 2017

Amirulooh Harusnya Bersama Kembarannya Jadi Taruna STIP

Rabu, 11 Januari 2017 — 18:39 WIB
Korban Amirullah bersama kembarannya Amar

Korban Amirullah bersama kembarannya Amar

JAKARTA (Pos Kota) – Duka masih menyelimuti keluarga, Amirulooh Adtyas Putra alias Amir, 19. Orangtua Amir, Rospiyadi tidak menyangka anak keduanya tersebut tewas secara tragis dianiaya seniornya di kampus STIP.

Ia mengaku anaknya tersebut pendiam dan sabar serta selalu menurut kepada orangtuanya. “Kami Sangat menyesalkan kurangnya pengawasan di STIP hingga anak saya jadi korban penganiayaan di kampusnya. Saya sudah serahkan sepenuhnya ke pihak kepolisian untuk dilakukan proses hukum kepada merek (para pelaku),” kata Rospiyadi didampingi sang istri, Yanti.
Dikataan saat hendak masuk ke STIP pihak keluarga sempat menanyakan sekaligus memastikan kepada pihak STIP bahwa tidak ada kekerasan terhadap junior, seperti terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. “Saat itu dibilang tidak ada lagi kekerasan seperti itu, tapi kenyataannya ada lagi. Saat anak saya masuk kondisinya baik-baik saja tidak ada keluahan sakit aatau yang lain,” ucapnya.

Pihak keluarga mendapat kabar kematian Amir, sekitar pukul:03.00 wib dinihari setelah perwakilan pihak STIP datang ke rumahnya. Spontan kabar tersebut membuat keluarga menangis dan paginya diarahkan menuju RS Kramajati oleh pihak kepolisian. Rospiyadi mengaku terakhir kali bertemu Amir Sabtu (8/1) saat keluarga biasa berkumpul. Kepada Ayahnya, Amir mengaku lokernya ada yang membobol uang dan ATMnya hilang. “Saya bilang sudah iklasin aja, ATMnya sudah di blokir sekolah aja yang baik,” ingatnya.

Sementara itu, kembaran Amir, Amarulloh mengaku, pada Sabtu bertemu dengan adiknya dan sempat bercanda. Saat bertemu itu kondisi Amir sehat dan tidak banyak bercerita tentang kondisinya di kampus atau kekerasan yang dialaminya. “Dia bilang dia sering mendapat hukuman, seperti temannya buang sampah timnya jadinya kena hukuman semua. Dan pada hari Minggunya saya antara dia ke kampusnya sekitar pukul:12.00 wib siang,” tukas Amar.

Amar mengaku banyak kenangan dengan adik kembarannya itu , sejak sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA) mereka ingin membuat orangtuanya bangga dengan masuk sekolah pelayaran. “Waktu SMP kita ingin membuat ayah bangga akan sekolah di STIP. Saya sama dia (Amir) mendaftar di STIP setelah tes, yang lulus hanya dia. Saya hanya memberikan semangat dan jaga kesahatan. Saya sendiri sekolah di AMI,” pungkasnya.

(BACA : Kapolda Metro Tegur Keras STIP)

Sementara itu, saat jenazah Amir tiba di rumah duka di Jalan Warakas 3 Gang 16, Warakas, Tanjung Priok , Jakarta Utara, menangis histeris pecah dari kerabat dan sanak keluarga hingga teman korban di STIP. Usai disemayamkan di rumah korban langsung dimandikan dan di salatkan di mushollah Baburahim tak jauh dari rumahnya. Sekitar pukul:02.00 wib, jenazah kemudian dibawa untuk dikebumikan di TPU Budi Dharma Cilincing. (ilham)