Tuesday, 25 July 2017

Penemu Formula Kopi Osing

Rabu, 11 Januari 2017 — 0:58 WIB
Setiawan Subekti.

Setiawan Subekti.

KOPI hitam dan pahit, bagi Setiawan Subekti, sudah tidak berlaku dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi, katanya, kopi dikait-kaitkan dengan penyakit gula darah alias diabetes. “Orientasi seperti itu sudah tidak ada lagi setelah saya mengenal dan memahami kopi,” ujar penemu formula Kopi Osing asli Banyuwangi, Jawa Timur, kepada wartawan Pos Kota baru-baru ini.

Pasalnya, kopi Arabika dipadu Robusta dikembangkannya mulai dari perkebunan kopi milik sang ayah, (alm) Adi Kardono itu sudah dilakukan ujicoba di Lereng Gunung Ijen dan Raung dengan ketinggian kurang dari 1000 meter atas permukaan laut. Kendati, sejatinya, kopi tumbuh di dataran tinggi lebih 1000 meter dari permukaan laut.

Ia mengakui tidak menyoal cita rasa melainkan hasilnya adalah kopi, yang bukan jagung atau kedelai. Alasannya, kopi arabika memiliki pangsa pasar paling besar di dunia. Sedangkan Indonesia termasuk negara yang paling besar memproduksi kopi Arabika. Realitas ini pula yang terus mendorong Iwan mengedukasi masyarakat dan terjun langsung membina petani kopi mulai dari Takengon, Bengkulu, Liwa, Temanggung, Kintamani, Manggarai hingga Wamena.

Alasan lainnya adalah kopi Arabika memiliki kandungan asam dan kafein yang lebih rendah dari Robusta. Karenanya, pekebun kopi sejak 1987 itu juga menolak anggapan sebagian orang yang menyebut meminum kopi menyebabkan peningkatan asam lambung atau sakit perut bahkan diabetes. Walau diakui pemilik lahan 11 hektare itu semuanya membutuhkan proses dan pengolahan secara benar bahkan menyehatkan.

KUALITAS DUNIA

Kopi Arabika dari Indonesia, menurut Iwan, termasuk peringkat kelima terbaik di dunia. Sejumlah kedai kopi dunia menempatkan kopi asal Indonesia pada level istimewa. “Karena itu setiap berkunjung ke luar negeri saya mampir ke beberapa kedai kopi yang terkenal di dunia dan saya koleksi biji-biji kopi berkualitas asal Indonesia,” ujarnya bangga.

Sejak jaman kolonial hingga kini, katanya, kopi asal Indonesia menjadi favorit dunia. Bahkan sekaliber kedai Starbuck rintisan Michael Gates Gill mengandalkan kopi Indonesia dalam menentukan seorang karyawannya naik level menjadi barista.

“Saya terkaget-kaget sekaligus bangga ketika membaca memoar Michael Gates Gill, ‘How Starbucks Saved My Life’ yang mengisahkan pengalamannya sebagai seorang karyawan sebuah kedai Starbucks, yang telah menyalamatkan hidupnya; dari seorang yang paling paria dan hina di negara kapitalis Amerika Serikat,” ujarnya memulai kisah itu.

Michael awalnya salah seorang presiden di perusahaan periklanan multinasional J. Walter Thompson (JWT), yang memiliki berbagai fasilitas mewah. Lulusan Yale University ini di kalangan eksekutif Amerika Serikat dikenal sebagai sosok yang sempurna, yang memiliki segalanya; mulai rumah mewah di pinggiran kota, istri dan anak yang penuh kasih, dengan kehidupan glamour. Sampai akhirnya ia dipecat oleh anak buah asuhannya saat berusia 53tahun, yang belakangan ditinggalkan sendirian oleh anak istri pasca-hidup miskin.

Namun, singkatnya, petaka itu membawanya bekerja sebagai pembersih toilet di kedai Starbuck. Tak lama kehidupannya membaik sesaat supervisor kedai itu memintanya sebagai tester kopi asal Sumatera, Indonesia. Belakangan, nasib mengembalikan Michael sebagai orang sukses saat mengelola bahkan mengambil alih Starbuck. (rinaldi)