Friday, 17 November 2017

Perawat Ditinggal Berlayar Kena “Suntik” Anggota DPRD

Rabu, 11 Januari 2017 — 6:33 WIB
layar

JADI istri pelaut harus siap kesepian. Tapi Niken, 40, tak siap dengan resiko itu. Diajak mesum oleh oknum DPRD Jembrana (Bali), ho-oh saja. Tapi sial rupanya, saat berkelon ria dalam hotel el di malam Tahun Baru, kena razia Pekat (Penyakit Masyarakat). Tetangga yang tahu hanya bisa bilang, “Rasain lu!”

Meski jaman sudah demikian canggih, rasa rindu pada pasangan belum bisa diobati lewat WA dalam HP smart phone. Rasa rindu itu baru sembuh manakala ketemu dan kontak fisik langsung. Jika hanya japri-japrian di WA, rasa rindu itu malah semakin menggantung. Maka jika tak bisa mengendalikan kerinduan pada suami, ujung-ujungnya banyak yang memilih punya PIL.

Ny. Niken warga Jembrana ini juga seperti itu. Problem ekonononi baru saja diatasi, menyusul problem yang lain. Ternyata urusan perut memang lebih mudah dikendalikan ketimbang yang di bawah perut. Tak punya beras masih bisa pinjam sama tetangga. Tapi kalau jauh dari suami, apa mungkin pinjam suami tetangga?

Perawat di RSUD Negara, Jembrana ini memang tak pernah membayangkan punya suami seorang pelaut, karena nenek moyangnya memang bukan pelaut. Tiba-tiba sekitar 5 tahun lalu sang suami, Made Kartika, 45, kena PHK. Untung tak lama kemudian dapat pekerjaan baru di kapal pesiar, sehingga dia harus sering meninggalkan anak istri berbulan-bulan.

Sebulan dua bulan jauh dari suami, Niken masih tahan. Tapi 6 bulan tak ada kegiatan signifikan di malam hari, kacau juga rupanya. Ketika ada suami, dua kali dalam seminggu “pasokan” itu tak pernah telat. Bahkan kadang sering surplus, artinya: Niken belum sampai minta sudah dipasok lagi. Pendek kata, stok sampai Lebaran cukup aman!

Sekarang, sudah berbulan-bulan tak ada pasokan. Andaikan ayam, Niken sudah petak-petok mencari sarang. Rupanya sikap dan gelagat bini Made Kartika ini tercium oleh Bagus Mayun, 39, anggota DPRD yang sangat peka akan penderitaan rakyat. Melihat penampilan Ny. Niken yang masih STNK, langsung saja timbul nafsunya untuk memberi pertolongan.

Diam-diam dia mulai mendekati Niken. Ini tak terlalu sulit, karena memang tinggal sekampung, sehingga tinggal selangkah lagi bisa berdua-dua masuk dalam sarung.

Awalnya Niken menepis ajakan mesum oknum DPRD itu. Tapi lama-lama aspirasi yang di bawah perut tak terkendalikan lagi. Ketimbang nanti ada “demo damai” urusan begituan, Niken pun akhirnya melayani ajakan Bagus Mayun.

Awalnya kencan itu di rumah sendiri. Ternyata asyik juga “pasokan” dari oknum DPRD itu, Jika pinjam istilah orang Yogya, jan tanja tenan (nikmat sekali)! Entah berapa kali perbuatan terlarang itu dilakukan, tak ada catatatannya. Yang jelas warga pernah memperingatkan, jangan menerima tamu di luar batas waktu yang ditentukan.

Risih dengan tegoran warga, Niken – Bagus Mayun kemudian memindahkan medan “pertempuran” di hotel. Ini dijamin lebih aman. Sebab yang namanya hotel non syariah, biasalah digunakan bukan untuk sekedar istirahat, tapi juga melepas syahwat. Cuma jika di rumah tak ada biaya boking, di hotel meski hanya beberapa jam saja tetap dihitung semalam.

Selama ini aman-aman saja. Cuma pada malam Tahun Baru 2017 kemarin lain. Tak dinyana ada Operasi Pekat dari kepolisian. Nah, pasangan Bagus Mayun – Niken terjerat operasi. Mau berkelit macam Bupati Katingan, mana bisa wong keduanya tidak pernah nikah siri. Akhirnya keduanya hanya bisa pasrah pada nasib. Kemungkinan besar Bagus Mayun terkena recall, dan Niken kena cerai.

Makanya, kunjungi dapil jangan suka jowal-jawil. (JPNN/Gunarso TS)