Wednesday, 26 September 2018

Sebegitu Murah Nyawa Manusia

Rabu, 11 Januari 2017 — 6:26 WIB
ngopi

DIA mahasiswi yang sedang berjuang untuk hidup, sekolah sambil bekerja. Jauh dari orang tuanya, dan tinggal di tempat kos. Tapi, dia meninggal dibantai oleh perampok. Tak banyak harta yang digasak, hanya HP dan laptop.

Nyawa manusia sepertinya nggak berharga. Artinya, harta yang dirampas tak sepadan harus ditukar dengan nyawa.

Misalnya, seperti juga kasus perampokan yang menelan enam korban di Pulomas, Jakarta Timur yang menggegerkan masyarakat di akhir tahun lalu. Bayangkan saja, hanya menggasak HP saja harus menghilangkan nyawa enam orang yang tak berdosa?

Bang Jalil hanya bisa memijit-mijit jidatnya. Dia sendiri nggak mengerti mengapa manusia sebegitu tega dan mudahnya membunuh sesamanya.

“Kok murah banget nyawa orang, ya Pak?” itu suara sang istri yang membaca pikiran Bang Jalil.

“Ya, ini yang dibilang kiamat sudah dekat, sudah menjelang akhir jaman, Bu,” jawab Bang Jalil sambil menyeruput kopi yang disediakan sang istri.

Manusia mudah banget tersinggung, marah dan nekat, dan tak segan segan membunuh sesamanya. Mereka mudah setres. Ya, banyak banget penyebabnya,Bu. Sekarang ini banyak pengangguran, mau kerja nggak kebagian. Kan katanya sekarang ini lapangan pekerjaannya diserobot pekerja asing?
Belum lagi harga-harga pada naik. Sementara perut lapar. Nggak punya uang. Buat yang punya urat jahat, ya mencari uang dengan kejahatan. Merampok, membegal dan mencuri? “ Ibu tahu kan sekarang cabe aja mahal?”

“ Hemm, Bapak ternyata paham, jadi jangan marah dong kalau Ibu selalu minta uang belanja lebih?” ujar sang istri.” Nah, Bapak silakan deh cari tambahan uang yang banyak, tapi ingat jangan sampai melakukan kejahatan, merampok apalagi sampai membunuh. Dosa!”

“Amit-amit deh” kata hati Bang Jalil sambil tersenyum kecut! -massoes