Saturday, 29 April 2017

Sejak Kecil Sudah Punya Rumah Cemburulah Sama Keong

Rabu, 11 Januari 2017 — 6:20 WIB
rumah

KALANGAN rakyat miskin banyak yang “cemburu” pada keong. Sejak kecil mereka sudah punya rumah sendiri, dan semakin gede itu keong, semakin gede pula rumahnya. Sedangkan masyakat miskin, semakin gede anggota keluarganya, semakin tidak bisa bergerak di rumah karena terlalu kecilnya hunian.

Bukannya tidak peduli, pemerintah terus membangun rumah buat rakyat. Tapi sayangnya rumah-rumah BTN yang disediakan negara semakin tidak manusiawi. Rumah tipe 21/60 M yang disebut RSSSSS sering diplesetkan orang: Rumah Sangat Sederhana Selonjor Saja Susah.

Rumah murah buat keluarga MBR itu awalnya disebut RS (Rumah Sederhana). Ketika harga-harga bahan bangunan semakin mahal, singkatan itu berubah jadi RSS (Rumah Sangat Sederhana). Tapi karena ukuran sudah tidak bisa diperkecil lagi dari tipe 21/60 M, belakangan singkatan itu sudah jadi RSSSSS.

Presiden RI, tahun 2015 Jokowi meluncurkan program sejuta rumah bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) di seluruh Indonesia. Tapi banyak developer yang tak sanggup melaksanakan. Sebab sebagai pengembang mereka kan harus mengembangkan modalnya, alias mencari untung. Jika dipaksakan juga, rumah itu semakin jauh dari kota dan ukurannya pun semakin kecil. Ibarat kata, dibuat bakar keong saja tidak mateng.

Ketika Perum Perumnas dibentuk Orde Baru di tahun 1974, rumah-rumah itu masih manusiawi. Paling kecil tanah berukuran T-45/70 M, dan lokasinya pun masih tak jauh dari kota. Misalnya Perumnas Klender di Jakarta, atau Perumnas Depok di Bogor, meski penghuninya pekerja di Jakarta juga. Itupun banyak yang belum tertarik, sebab dilihat dari bentuknya yang berdinding batako, rumah-rumah BTN itu diplesetkan jadi: Bangunan Tidak Normal.

Paling unik penduduk kota ini, mereka mau saja “dibohongi” pengembang pakai bahasa-bahasa bombastis. Lokasi rumah disebut: hanya 30 menit dari Monas, padahal lokasinya di Bekasi. Bisa memang 30 menit, tapi harus pukul 01.00 dinihari dan ngebut 100 Km/jam. Dalam kenyataan sekarang, Bekasi –Jakarta bisa lebih dari 3 jam karena terjebak macet. – gunarso ts