Tuesday, 25 July 2017

Amirulloh Adityas Putra Anak Kita Semua

Kamis, 12 Januari 2017 — 6:23 WIB
mayat

SEBAGAI orangtua yang punya anak remaja, saya muak dan marah membaca berita tewasnya Taruna Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran – STIP tingkat 1, Amirulloh Adityas Putra, 19, yang diduga akibat dikeroyok oleh para seniornya. Kebodohan yang berulang ulang!

Pengeroyokan yang menewaskan itu, menurut polisi, terjadi di lantai 2, kamar M-205, salah satu gedung STIP, di Jalan Marunda Makmur Kelurahan Marunda, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara. Terjadi usai latihan drum band sekitar pukul 22.00 WIB.

Menurut catatan kepolisian, kebrutalan oknum siswa di sana bukan yang pertama, melainkan yang ketiga kali kali. Sebelumya terjadi pada tahun 2012 dan tahun 2013.

Penanggung jawab sekolah itu harus mundur – atau dipecat – karena tidak bisa mengontrol perilaku brutal muridnya. Dan para pelakunya selain dipecat juga diadili di pengadilan umum dan mendapat tuntutan maksimal.

Mengapa sekolah dinas yang mendidik generasi penerus menjadi arena pembantaian, di mana para senior menjadi semena mena, dan menjadi menindas juniornya yang perlu bimbingan dan arahan. Bukan pukulan.

Secara fisik mereka dididik untuk menjadi kuat. Tapi kekuatan mereka bukan untuk memukuli junior dan rekan sendiri. Kita sama sama tahu itu. Yang heran, mengapa itu terjadi lagi, dan terkesan ada pembiaran.

Kekerasan itu tak perlu terjadi, seandainya guru dan pelatih terus menerus mengingatkan bahayanya kekerasan di sana. Karena mereka dilatih untuk menjadi tangguh, sehingga jika melakukan kekerasan berdampak mematikan.

Bayangkan jika Anda yang menjadi orangtua korban. Menjadi orangtua dari Amirulloh Adityas Putra. Mengandungnya 9 bulan, dan 19 tahun membesarkan. Dan kita sama sama tahu rasanya membesarkan anak, yang mengorbankan waktu, tenaga dan biaya. Kasih sayang tertumpah dan ditujukan untuk mereka.

Segala usaha dilakukan, kaki buat kepala, kepala buat kaki, agar anaknya bisa sukses dan kelak membanggakan mereka. Lalu ternyata sang anak yang sedang mewujudkan cita citanya, pulang dalam keadaan terbujur kaku. Sudah tak bernyawa.

Kepada polisi yang mengusut kasus ini, kepada para pendidik dan kepala sekolah, dan orangtua para pelaku. Juga kepada instansi yang mengawasi sekolah tinggi itu: berdirilah pada posisi orangtua korban, sekarang ini.

Amiruloh Adityas adalah anak kita semua – anak Indonesia. Kita sama sama tahu rasanya kehilangan anak, dan selanjutnya kita bertanggung jawab atas apa yang akan kita lakukan. Untuk membereskan kasus ini dan mengusutnya hingga tuntas.

Agar kebodohan yang sudah terjadi berkali kali itu, tidak terulang lagi. (dimas)