Saturday, 29 April 2017

DPR: Mega dan Penulis Pidatonya Tak Miliki Pemahaman Cukup

Kamis, 12 Januari 2017 — 12:07 WIB
Megawati Soekarnoputri saat menyampaikan pidato politik dalam HUT ke-44 PDIP. (pdiperjuangan.id)

Megawati Soekarnoputri saat menyampaikan pidato politik dalam HUT ke-44 PDIP. (pdiperjuangan.id)

JAKARTA (Pos Kota) – Anggota Komisi III DPR Raden Muhammad Syafi’i menilai pidato Ketua  Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri pada HUT ke-44  PDIP yang ke 44 lalu, bukan ditulis langsung oleh Megawati, tapi oleh penulis pidato. Dalam pidato itu tidak memiliki pemahaman yang cukup tentang apa yang diucapkan dan yang dituliskannya.

”Megawati sebagai pembaca pidato yang dibuat orang lain itu saya yakin sama-sama tidak memahami dan memiliki pengetahuan agama yang cukup baik sehingga bisa berbicara dan menulis pidato yang demikian  menyakitkan umat Islam,” imbuhnya.

Menurut Syafi’i, mereka  tidak memahami kultur memahami kultur dan semangat religiusitas di Indonesia. Kehidupan beragama di Indonesia selama ini sudah berjalan dengan baik, kerukunan umat beragama juga sudah terawat dengan baik. Tentu,  ini karena dipelihara oleh masing-masing pemeluk agama dan terutama sikap tolerannya pemeluk Islam.

“Karena itu kalau berbicara hendaknya disesuaikan dengan kapasitas. Jika kehidupan setelah kematian (akhirat)  dikatakan ramalan-ramalan,  jelas mereka tidak memahami itu. Ini masalah keimanan,” katanya.

Sangat riskan bagi kerukunan di negeri ini kalau bicaranya seperti itu. Ia mengimbau kepada semua pemimpin yang ada di republik untuk berbicara sesuai kapasitas dan menjaga persatuan dan kesatuan, merawat kerukunan umat beragama.

“Jangan sekali-sekali berbicara rasis baik untuk bangsa sendiri maupun bangsa lain di dunia serta menjaga sopan santun tata budaya bangsa,” tegasnya.

Politisi Gerindra itu juga menyoroti pernyataan Megawati yang menyinggung sikap keagamaan terkait Arab, Hindu, dan lainnya, yang dinilainya juga menyudutkan pihak lain.

Dia sepakat bahwa bangsa indonesia memang tidak perlu menjadi seperti bangsa lain tapi perlu dipahami bahwa dalam ibadah-ibadah  Islam itu banyak yang menggunakan bahasa Arab. Ini menurut Romo bukan berarti kita menjadi seperti bangsa Arab. “Selain itu sangat tidak layak kalau kita mendeskreditkan bangsa lain hanya karena persoalan agamanya,” ujar nya. (win)

  • Abah sepuh

    Suudzon sama pidato Bu Megawati, ya apapun diplesetkan !!!!

  • H Abdullah

    Yang benar itu Fatwa MUI.