Saturday, 29 April 2017

Pemilik Empat Apotek Jual Obat Keras Secara Bebas

Kamis, 12 Januari 2017 — 19:34 WIB
Tersangka penjual obat keras 9tutup muka)

Tersangka penjual obat keras 9tutup muka)

JAKARTA (Pos Kota) – Ribuan butir obat keras yang diduga kuat palsu karena tidak dilengkapi surat ijin edar dan produksi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM), yang ditaksir bernilai miliaran rupiah, disita Kepolisian Industri dan Perdagangan (Indag) Dit Reskrimsus Polda Metro Jaya.

Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, Kombes Wahyu Hadiningrat mengatakan, obat-obatan tersebut disita dari dua tersangka yang merupakan pemilik dan distrinutor yakni M (33) dan MS (50) di Pasar Pramuka, Jakarta Timur.

“Obat-obatan ini tidak kita temukan di kios-kios sana (Pasar Pramuka). Disana cuma transaksinya,” ujar Wahyu Kamis, (12/1/2017).

Dari hasil penyelidikan, diketahui obat tersebut berasal dari Tangerang dan diedarkan secara bebas di Jabodetabek, bahkan pelaku juga menjualnya melalui sistem online.

Tersangka umumnya menjual dalam partai kecil dalam bentuk kemasan plastik yang menyasar pelanggannya adalah anak remaja di bawah umur dan pengamen. Namun, mereka juga melayani penjualan dalam partai besar.

“Penggunaannya harus dengan resep dokter. Penggunaan obat dalam jumlah banyak dapat menimbulkan halusinasi bagi konsumennya,” kata Wahyu.

Jenis obat yang diedarkan yaitu Hexymer, Tramadol HCL, Tramadol kapsul, dan Dexto Metorpham. Sedangkan obat yang berfungsi sebagai penenang di antaranya Trihexyphenidyl 2 mg, Alprazolam 1 mg, Risperidone 2, Xlozapine 25, Zypraz 1 mg, Valdimex Diazepam 5 gram, Actazolam 1mg, Merlopam Lorazepam 2mg, Riklona Clonazepam 2mg, Tramadol, Chlorpromazine, Dextromethorphsn 15mg, dan Hexymer 2mg.

Obat tersebut dijual dengan harga berfariasi mulai dari Rp 10 ribu sampai Rp 20 ribu paket dengan isi 10 butir pil.

Satu tersangka diketahui memiliki empat apotik yang tersebar di Wilayah Jabodetabek serta melayani penjualan di rumah pribadinya di Tangerang dan Jakarta Barat. “Dari empat apotek, dua yang sudah kita temukan menjual obat-obatan palsu tersebut dan satu toko obat,” bebernya.

Dalam sebulan komplotan ini bisa mendapat keuntungan sampai Rp 400 juta . Dari tangan pelaku juga diamankan barang bukti satu buah air shofgun.

“Digunakan pelaku (air shofgun) untuk menakut-nakuti petugas POM yang akan melakukan pemeriksaan,” pungkasnya.

Tersangka dikenakan Pasal 196 Jo Pasal 98 ayat (2) dan ayat (3) dan atau pasal 197 junto pasal 106 ayat (1) dan atau pasal 198 Jo pasal 108 Undang-Undang RI Nomor 36 Tahun 2009. Pelaku juga dikenakan Pasal 62 ayat (1) junto pasal 8 ayat (1) huruf a dan e Udang-Undang RI Nomor 8 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen, serta Pasal 3, 4, 5 UU RI No.8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU), dengan ancaman pidana 5 Tahun pidana dan denda Rp 2 milyar. (Yendhi)