Thursday, 23 November 2017

Sepi Istri Meninggal, Cucu Tiri Menjadi Sasaran

Minggu, 15 Januari 2017 — 5:39 WIB
bujuk

SEJAK istri meninggal, Mbah Jengatno, 71, benar-benar merasa sepi di rumah. Tapi solusinya bukan teriak-teriak atau nabuh kaleng rombeng, si kakek ini justru menodai cucu tiri sendiri, Paimi, 16. Berulangkali dinodai dengan imbalan sejumlah uang, gadis ABG itu pun hamil. Bingung bagaimana menyelesaikan.

Paling enak memang warga Jakarta. Hanya nyoblos salah satu paslon Cagub DKI, nanti jika dianya menang setiap RW bakal dapat dana Rp 1 miliar. Warga kota nyerobot tanah negara pun tidak akan digusur, malah dapat BLT, dengan alasan berpihak pada orang miskin. Beda dengan ABG Paimi dari Ponorogo (Jatim) ini; untuk dapat uang barang Rp 20.000,- harus mau “dicoblos” Mbah Jengatno berulang kali. Padahal begitu hamil, orangtua bingung mencari solusi.

Mbah Jengatno, warga Kecamatan Sawoo, agaknya hanya punya “imin” tak punya iman. Bagaimana mungkin, usia sudah bau tanah, kok masih jadi pejuang selangkangan. Melihat cucu tiri sendiri yang mulai gede, langsung njengat (bangkit) nafsunya. Padahal mestinya, kakek seusia Jengatno jika pun kepepet butuh pelampiasan mestinya mencari yang usia oversek (50 tahun lebih).

Dulu Mbah Jengatno saat menikahi Karni, janda muda itu memang punya anak bawaan, ya ibunya Paimi. Dengan demikian Paimi ini statusnya hanya cucu tiri, tak ada hubungan darah langsung dengannya. Namun demikian kasih sayang Mbah Jengatno pada cucu tiri tersebut tak usah diragukan lagi. Si kakek memang sudah menganggap Paimi sebagai cucu kandungnya.

Setahun lalu istri Mbah Jengatno meninggal. Agar ada yang ngurus, anak tiri sekaligus cucu tiri diminta tinggal di rumah Jengatno. Sayang rumah gede magrong-magrong tak ada yang ngurus. Karena ibu si Paimi menganggap Mbah Jengatno seperti bapak sendiri, tawaran itu diterima.

Meski sudah ada kanca glenik-glenik (teman ngobrol), Mbah Jengatno masih juga merasa kesepian ditinggal mati istri. Sebab anak tiri dan cuci tiri itu hanya bisa membantu dalam hal menyediakan makan minum dan mencuci pakaian. Tapi soal kebutuhan biologis Mbah Jengatno yang ternyata masih aktif, tak ada yang bisa mengatasi.

Jika sepinya suasana, dengan teriak-teriak atau memukul kaleng rombeng, selesai. Tapi sepinya hati dan jiwa tanpa istri, susah obatnya. Solusinya hanya nikah lagi. Tapi seumur Mbah Jengatno tidak punya pasar lagi. Selain dia bukan kakek kaya, selera Mbah Jengatno justru yang berusia 40 tahun ke bawah. Ya mana ada perempuan, janda sekalipun, mau kawin dengan lelaki yang sudah bau minyak gosok dan reumason.

Tiba-tiba setan datang. Dia iseng banget karena seharian belum berhasil menggoda iman orang. Melihat Mbah Jengatno duduk bengong, langsung dihampiri. Namanya juga setan, dia langsung tahu apa yang berkecamuk dalam jiwanya. “Kenapa mikir jauh-jauh, Bleh. Itu cucu tirimu kan bisa juga dimanfaatkan,” kata si setan berbisik-bisik, untuk meyakinkan klien barunya.

Oh iya, ya! Boleh juga solusi itu, karena Paimi sendiri kini sudah mulai enak dipandang. Mendadak sontak nafsu Jengatno njengat (bangkit) lagi. Maka di kala rumah sedang sepi, Paimi dirayu-rayu agar mau melayani kebutuan biologisnya. “Nanti kamu saya kasih uang jajan.” Bujuk Mbah Jengatno.

Awalnya Paimi tidak mau. Tapi karena Mbah Jengatno pantang menyerah, lama-lama money politic ini manjur juga. Begitulah, sejak itu asal diberi uang Rp 20.000,- langsung saja Paimi bertekuk lutut dan berbuka paha. Begitu sering dijadikan medan pelampiasan, tahu-tahu Paimi hamil. Tentu saja orangtua ABG itu bingung, bagaimana harus menyelesaikannya. Masak ayah tiri itu akan berbalik jadi mantu? Edan apa?

Ya memang edan Mbah Jengatno ini. (JPNN/Gunarso TS)