Sunday, 22 October 2017

Industri Asal Jepang Didorong Perkuat Rantai Pasok di Indonesia

Senin, 16 Januari 2017 — 14:17 WIB
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto berbincang-bincang dengan Menko Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan (kanan) serta Muhamad Lutfi (kiri) sebelum dimulainya acara Business Meeting between Japan and Indonesia di Jakarta, 15 Januari 2017.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto berbincang-bincang dengan Menko Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan (kanan) serta Muhamad Lutfi (kiri) sebelum dimulainya acara Business Meeting between Japan and Indonesia di Jakarta, 15 Januari 2017.

JAKARTA (Pos Kota) –  Industri asal Jepang di Indonesia didorong untuk memperkuat rantai pasoknya sehingga akan membantu mengatasi permasalahan kebutuhan bahan baku di dalam negeri. Untuk itu, Kementerian Perindustrian berharap ada peningkatan investasi dari perusahaan-perusahaan Negeri Sakura tersebut.

“Kami berharap industri-industri dari Jepang, seperti yang bergerak di bidang pengolahan mineral logam, pembangkit listrik, gasifikasi batu bara, petrokimia, dan kaca dapat berinvestasi di Indonesia pada lokasi-lokasi kawasan industri yang telah disiapkan,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada acara Business Meeting between Japan and Indonesia di Jakarta, Minggu malam (15/1).

Kawasan industri itu, antara lain Kawasan Industri Dumai di Riau yang telah dilengkapi pembakit listrik dengan kapasitas 50 MW, terminal CPO dan pengolahan limbah. Kawasan ini dapat digunakan untuk pengembangan industri gasifikasi batu bara dan oleo chemical.

“Kami juga menawarkan kawasan Industri JIIPE di Gresik dengan total area seluas 2.933 Ha serta didukung power plants sebesar 23 MW dan 500 MW. Kawasan yang dilengkapi dengan residensial area dan pelabuhan ini didorong sebagai kawasan untuk heavy industry dan permesinan,” tutur Airlangga.

Selanjutnya, Kawasan Industri Kendal di Jawa Tengah dengan luas sebesar 2.700 Ha yang lokasinya berdekatan dengan pelabuhan Semarang. Di kawasan ini,  rencananya akan dibangun industri furniture, industri makanan dan industri garmen. “Dengan upah buruh yang kompetitif, maka kawasan industri ini akan memiliki keunggulan dibanding kawasan lain,” ujar Airlangga.

Menperin juga menawarkan lokasi Kawasan Industri Bontang di Kalimantan Timur. “Kawasan ini akan dikembangkan untuk industri gasifikasi batu bara. Dengan didukung area seluas 265,6 Ha, saat ini sedang dibangun industri jasa minyak dan gas di kawasan tersebut,” terangnya.

IKM JEPANG

Kemenperin juga mendorong pelaku industri kecil dan menengah (IKM) di Jepang agar ikut berinvestasi di Indonesia. “Kami ingin membantu agar makin banyak investasi IKM dari Jepang di Indonesia. Ke depannya, IKM Jepang ini akan dimitrakan dengan IKM-IKM yang ada di Indonesia untuk penguatan dan upgrading produktivitas,” ujarnya.

Untuk mendukung hal tersebut,  pihaknya telah melakukan penguatan data dari pelaku IKM di dalam negeri agar nantinya dapat diidentifikasi sektor mana saja yang dapat menjadi mitra strategis. “Diharapkan, IKM Indonesia juga menjadi salah satu bagian dari supply chain,” tegasnya.

Pada pertemuan Presiden Joko Widodo dengan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe di Istana Bogor, yang juga dihadiri Menperin Airlangga, Jokowi menyebutkan investasi Jepang mencapai  4,498 miliar dolar AS  atau Rp59,8 triliun (pada kurs Rp13.300) hingga September 2016. Angka tersebut meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan tahun 2015.

Berdasarkan data BKPM, Jepang memberikan kontribusi investasi paling tinggi di Indonesia melalui industri otomotif dengan nilai  1,18 miliar dolar AS  pada tahun 2015, disusul kawasan industri dan properti  520 juta dolar AS , kemudian industri logam, elektronik, dan mesin senilai  426 juta dolar AS, serta listrik, gas, dan air sebesar 134 juta dolar AS.

Di samping memaparkan mengenai peluang investasi Indonesia-Jepang di sektor industri, Menperin juga meminta peningkatan kerja sama di bidang vokasi industri.

Hal ini sesuai arahan Presiden Joko Widodo yang menekankan bahwa untuk membangun industri nasional dibutuhkan tenaga kerja industri yang kompeten.  “Untuk itu, Bapak Presiden memberikan arahan agar SMK dan politeknik di Indonesia diperkuat link and match-nya dengan industri. Selain itu, Bapak Presiden juga menargetkan sampai dengan tahun 2019 ada satu juta tenaga kerja dari vokasi yang terhubung dengan industri,” paparnya.  (Tri/win)