Sunday, 28 May 2017

Warna-warni Dagang Zaman Sekarang

Sabtu, 21 Januari 2017 — 6:23 WIB
warung

0leh S Saiful Rahim

“Alhamdulillah, warung kopi ini masih ramai seperti dulu,” kata seseorang yang baru saja masuk ke warung kopi Mas Wargo setelah lebih dulu mengucapkan “assalamu alaykum” dengan fasih.

Seperti ada yang mengomandoi hampir semua orang yang ada di warung kopi menoleh ke pintu masuk. Beberapa di antara mereka ada yang terlebih dulu menjawab salam dengan “ wa alaykum salam,” ada yang langsung menoleh, dan ada pula yang berkata, “Hei ke mana saja Bung? Lama tidak kelihatan.”

Rupanya orang yang baru masuk itu adalah pelanggan warung tersebut yang lama tidak muncul. Karena itu suasana warung pun menjadi hiruk pikuk . Semua hadirin ingin melepaskan rindu dengan cara mereka masing-masing.

“Tunggu dulu, Bung!” Tiba-tiba salah seorang hadirin bicara dengan nada lebih tinggi daripada omongan orang lain, untuk lebih merebut perhatian semua hadirin.

“Mengapa kalimat Bung tadi agak miring. Bung heran warung ini masih berdiri dengan gagah perkasa, dan didukung kehadiran orang-orang lama?” sambung orang itu dengan menyita semua perhatian hadirin dan membuat mereka terdiam menunggu jawaban.

“Bukan apa-apa. Aku malah bangga warung ini masih ramai seperti dulu. Padahal sekarang warung kopi muncul di mana-mana dengan promosi macam-macam. Seirama dengan produksi kopi yang tiba-tiba muncul juga di mana-mana. Setiap daerah di negeri kita sekarang bagai berebut memperkenalkan dan mempromosikan kopi produksi mereka. Kini tidak ada daerah yang tidak punya kopi khas. Seakan-akan memproduksi kopi itu hanya tinggal copy paste saja. Itu yang membuat aku kagum dan heran warung ini mampu bertahan. Bahkan dengan pelanggan yang relatif itu-itu saja. Atau kalau meminjam bahasa pop zaman dulu, pelanggan warung ini “Lu lagi, lu lagi.” Sambung orang itu panjang lebar.

“Barangkali sekaranglah saatnya kita mengkaji ulang profesi nenek moyang kita,” tanggap orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang, satu-satunya tempat duduk di warung tersebut.

“Maksud Bung?” tanya orang yang heran melihat warung kopi Mas Wargo masih bertahan dengan pelanggan yang nyaris itu-itu juga.

“Rasanya nenek moyang kita bukanlah pelaut seperti yang dipuja-puja dalam nyanyian itu. Buktinya di laut kita terus-menerus kedodoran. Tidak kurang dari menteri kelautan kita yang hebat itu juga mengatakan ikan-ikan dan kekayaan lautan kita lainnya nyaris habis dicuri, bahkan dikuras pelaut asing. “

“Kalau bukan pelaut, nenek moyang itu kita apa profesinya dong?” tanya orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang.

“Pedagang! Buktinya bukan cuma Mas Wargo yang bertahun-tahun mampu memperahankan lahan dagangnya ini, tetapi ribuan pedagang lain juga mampu mempertahankan profesi mereka masing-masing. Bahkan sekarang ini pegawai negeri, sampai yang tingkat pejabat tinggi pun mahir berdagang. Jabatan yang selalu jadi rebutan itu, sekarang pun mereka atau beliau-beliau, memperdagangkannya dengan laris manis. Dan mereka yang baru saja berkampanye ingin menjabat anu atau itu, sudah mulai membeli suara. Membeli itu kan termasuk ilmu dagang juga,” jawab orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang, membuat semua yang mendengarnya mengangguk-angguk seperti burung pelatuk sedang melubangi batang pohon untuk membuat sarang.

“Wah, kalau begitu aku mau jadi pedagang juga deh,” potong Dul Karung seraya meninggalkan warung.

“Apa yang mau kau jual, Dul?” tanya seseorang, entah siapa dan yang mana.

“Paling tidak jual tampanglah. Kalau jual diri pasti gak laku,” kata Dul Karung dari kejauhan. ( syahsr@gmail.com )

Terbaru

Kapolresta Tangsel AKBP Fadli Widiyanto. (anton)
Minggu, 28/05/2017 — 17:17 WIB
Penganiayaan di Tangsel Bukan Dilakukan Gangster
jaya
Minggu, 28/05/2017 — 16:55 WIB
Gudang Toren Terbakar, Warga Khawatir
Halte Bus Trans di kawasan Harmoni, Jakarta Pusat.
Minggu, 28/05/2017 — 15:50 WIB
Transjakarta Terkendala Kios Sembako Murah di Halte