Monday, 19 August 2019

MAKNA SINCIA

Kamis, 26 Januari 2017 — 5:50 WIB

Oleh Harmoko

SINCIA atau xinnian (sinnian) berasal dari bahasa Mandarin. Artinya tahun baru, tahun baru yang setiap tahun dirayakan oleh masyarakat Tionghoa di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Banyak orang menyebutnya Imlek.

Tahun ini perayaan tersebut dilakukan Sabtu lusa, 28 Januari 2017. Lebih dari sekadar perayaan, Imlek sejatinya memiliki makna filosofi yang dalam. Di balik tradisi pesta dan aneka macam pertunjukan, Imlek memiliki pesan spiritual tentang semangat hidup dan kesediaan berbagi.

Perayaan Imlek merupakan ekspresi rasa syukur atas rezeki yang didapatkan selama setahun dan membangun semangat untuk menjalani kehidupan pada tahun berikutnya. Sebagaimana sejarahnya, lebih dari 4.000 tahun silam, Imlek merupakan perayaan kaum petani untuk menyambut musim semi yang disebut Chun Jie.

Awalnya, berdasarkan perputaran bintang Jupiter, kira-kira tahun 2100 SM rakyat Tiongkok menyebut suatu musim yang mereka sebut Sui, yakni masa perputaran satu tahun. Kemudian, tahun 1000 SM mereka menyebut awal perputaran bintang Jupiter dengan istilah Nian yang berarti panen.

Seiring dengan perkembangan zaman, tradisi perayaan menyambut panen itu pun berubah, mengikuti pengalaman kehidupan yang juga terus berubah. Imlek tak saja dirayakan kaum petani. Perubahan itu tak harus menanggalkan pesan spiritualnya, yakni perayaan manusia yang menyatu dengan alam sekitarnya, menyatu dalam cinta kasih pada alam dan lingkungan.

Sebagai ungkapan syukur atas rezeki yang didapatkan selama setahun, ada tradisi pemberian angpau. Ini sekaligus simbol solidaritas sosial. Di sana ada pesan pentingnya selalu menumbuhkan semangat kepedulian sosial. Peringatan Imlek bisa kita jadikan sebagai momentum penguatan dan pengokohan spirit kebersamaan, kekompakan, serta senantiasa bersatu dalam kebhinekaan. Mengapa tidak? ( * )