Saturday, 25 November 2017

Henti Jantung Mendadak Bisa Menyerang Siapa Saja

Sabtu, 28 Januari 2017 — 10:18 WIB
ilustrasi

ilustrasi

JAKARTA (Pos Kota)- Meninggal mendadak akibat jantung atau henti jantung mendadak (sudden cardiac death) menjadi momok menakutkan. Sebab kejadian tersebut bisa menyerang siapa saja, baik mereka yang berusia masih muda maupun sudah tua. Bahkan mereka yang memiliki gaya hidup sehat dan gemar berolahraga.

Menurut Dr Jeffrey Wirianta SpJP, FIHA, spesialis jantung  RS Jantung Diagram Cinere, henti jantung mendadak tergolong penyakit yang mematikan.

Sebab, seseorang yang mengalami kejadian seperti ini hanya memiliki waktu kurang dari 10 menit untuk mendapatkan pertolongan dan diselamatkan. “Dengan waktu hanya 10 menit, siapa yang bisa melakukan pertolongan pertama jika pasien tidak sedang di rumah sakit?” jelasnya.

Karena itu pada kasus henti jantung mendadak sebagian besar berujung pada kematian pasien. Sebab umumnya henti jantung mendadak terjadi dirumah saat pasien sedang sendiri. Atau berada ditengah keluarga tetapi keluarga tidak memiliki pengetahuan cukup untuk melakukan pertolongan pertama.

Dr Jeffrey mengatakan henti jantung mendadak umumnya disebabkan oleh ventricular fibrillation (VF). Ini adalah sejenis gangguan irama atau listrik jantung. pada seseorang yang mengalami VF, jantung tidak lagi bisa memompa darah ke otak. Sehingga otak tidak mendapatkan asupan darah dan oksigen. Dalam hitungan menit, insiden tersebut akan membuat otak rusak atau bahkan tidak berfungsi hingga akhirnya meninggal dunia.

Adapun beberapa faktor risiko terjadinya henti jantung mendadak diantaranya kekuatan pompa jantung yang menurun oleh beberapa sebab, penyakit jantung koroner, riwayat serangan jantung sebelumnya, gagal jantung kongestif, dilated cardiomyopathy, gangguan irama jantung dan beberapa kelainan kelistrikan jantung herediter.

Untuk mencegah terjadinya kasus henti jantung mendadak, dr Jeffrey menyarankan pola makan sehat, olahraga teratur, stop rokok, pengaturan tekanan darah, pengaturan kadar kolesterol darah, pengaturan kadar gula darah, penggunaan obat-obatan jantung secara teratur dan bila perlu gunakan alat implantable cardioverter defribillator.

“Pemeriksaan rutin terhadap kesehatan jantung amat disarankan untuk menghindari kasus henti jantung mendadak,” pungkasnya. (faisal/win)