Thursday, 19 September 2019

TNI Polri Ditarik, Penambang Liar Beraksi di Gunung Botak

Minggu, 29 Januari 2017 — 19:12 WIB
Kawasan Penambangan emas liar di Gunung Botak terlihat dari kejauhan

Kawasan Penambangan emas liar di Gunung Botak terlihat dari kejauhan

JAKARTA (Pos Kota) –Penambangan liar merusak lingkungan di manapun. Di Bogor ada Gunung Pongkor yang secara legal dikelola satu BUMN, tetapi penambang liar beraksi luar biasa.

Ada juga penambangan liar di Pulau Buru yang sering disebut Gunung Botak di Desa Wamsait, Kecamatan Waelata, Kabupaten Buru, Maluku. Penambang emas liar di kawasan ini sangan masif hingga kerusakan lingkungan tambang sangat mengerikan. Limbah pengolahan emas dibuang ke Sungai Anahoni yang memiliki tujuh aliran sungai. Di sisi lain sungai itu menjadi sumber utama pengairan lahan pertanian di daerah itu.

Pohon-pohon sagu merangas, kering, menghitam dan tak sedikit yang mati di areal ratusan hektar. Tanah yang menjadi tempat pohon-pohon itu tumbuh telah tercemar racun sianida dan mercuri yang digunakan para penambang liar untuk memisahkan emas.

Penambang liar, menggunakan berbagai alat mengeruk perut Gunung Botak. Mereka membuat bak-bak penampungan di sepanjang sungai untuk mencampurkan sianida dan mercuri. Tanah direndam air dan merkuri agar keasamannya naik. Lalu, air mengandung merkuri dan emas itu dialirkan untuk digumpalkan dengan karbon aktif. Selanjutnya, gumpalan dibakar demi mendapat emas murni. Metode ini sangat berbahaya.

Yusthinus T Male, dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Pattimura, Ambon, mengungkapkan bahayanya merkuri bagi manusia. Dari penelitiannya, merkuri masuk ke dalam tubuh manusia melalui rantai makanan. “Kami sudah melakukan penelitian 2012 dan 2015 dengan fokus bahan makanan. Penelitian dimulai dari sedimen sungai yang airnya mengairi sawah.

Hasilnya kandungan merkuri 9 mg per kg lumpur padahal metinya tak boleh lebih dari 1 mg per 1 kg lumpur,” katanya.
Yustinus juga meneliti kandungan merkuri pada tubuh manusia. Hasilnya, pada rambut penduduk di sekitar tempat pengolahan emas, kadar merkuri 18 mg per 1 kg sampel atau lebih tinggi 36 kali dari standar.

Kondisi Gunung Botak dan penambang emas ilegal ini pernah dilaporkan kepada Presiden Joko Widodo dan langsung minta agar ditutup. Polisi, TNI dan Satpol PP melakukan penyisiran. Namun beberapa hari setelahnya penambang liar kembali lagi

“Lebih dari 23 kali penyisiran, tetapi selalu saja para penambang liar itu kembali datang,” ujar Helen Heumasse, Kasie Pengawasan Konservasi Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Maluku kepada Pos Kota.

Kondisi di lokasi penambangan kini kian parah. Karena sejak 6 Januari 2017 pasukan pengamanan TNI, Polri dan Satpol PP mditarik. Tak mungkin Satpol PP menjaga karena penambang liar sangat anarkis dan jumlahnya mencapai 2000an penambang,” kata Helen

Penarikan petugas keamanan ini, menurut informasi karena semua fokus pada pengamanan Pilkada 15 Pebruari 2017.“Keamanan Pilkada penting, tetapi wilayah seperti Gunung Botak ini juga penting untuk dijaga,” kata Ruslan Arief Soamole SH, Ketua LSM Parlemen Jalanan yang mencermati kerusakan lingkungan yang terjadi di kawasan Gunung Botak.

Pasca penarikan pasukan keamanan, penggunaan merkuri dan sianida di Pulau Buru makin besar. Penjualan barang terlarang itu dilakukan secara bebas, begitupan pembeli emas secara ilegal memenuhi pasar. “Mengapa polisi diam saja, perlu bukti apa lagi, pohon sagu yang rusak sapi yang mati setelah makan rumput di aliran sungai, buaya pun mati karena sianida dan racun mercuri,” ujar Ruslan kesal.(*)