Friday, 20 September 2019

Ditangkap, Sarjana Kimia Peracik Tembakau Gorilla

Jumat, 3 Februari 2017 — 16:51 WIB
Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Mochamad Iriawan (yendhi)_

Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Mochamad Iriawan (yendhi)_

JAKARTA (Pos Kota) – Pabrik pengolah tembakau gorilla yang diracik seorang sarjana kimia di Dukuh Pakis, Gunungsari, Surabaya, Jawa Timur, dibongkar Ditresnarkoba Polda Metro Jaya. Polisi menyita 450 kg tembakau mentah, 8 jerigen cairan alkohol dan 5 jerigen cairan glycerol.

Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Mochamad Iriawan, mengatakan tersangka WT merupakan seorang sarjana kimia yang menggunakan tempat tinggalnya menjadi pabrik pembuat tembakau jenis Gorilla. “Tersangka WT mengaku sudah membuat tembakau gorilla selama setahun atas perintah AS yang kini masih buron. Yang kita dapatkan kali ini adalah yang terbesar di Indonesia,” ujar Iriawan, Jumat (3/2/2017).

AS adalah orang yang memasarkan tembakau sintetis racikan WT kepada konsumen yang rata-rata para mahasiswa dan pegawai. “Penjualan dengan cara online melalui media sosial Instagram,” jelas Kapolda.

Tembakau gorilla yang diproduksi WT merupakan racikan antara tembakau asli dengan alkohol dan beberapa ramuan bahan kimia. Adapun efek yang ditimbulkan bagi para pemakainya adalah addictive, halusinasi, perubahan psikologis jiwa

Penggerebekan tersebut berdasarkan pengembangan dari pengedar dan pemakai yang terlebih dahulu ditangkap. Mereka adalah MY yang ditangkap pada Sabtu (21/1/2017) di Ceger, Bekasi Selatan, dengan barang bukti 10.520,74 gram. Selanjutnya, pada (25/1/2017) polisi menangkap FR di Pedurenan Karang Tengah, Tangerang Selatan, dengan barang bukti 517 bungkus tembakau gorilla seberat 2.806 gram.

Tersangka RY dan RF ditangkap di Jalan H. Muhajir Labu, Depok, pada Sabtu (28/1/2017), dengan 114 bungkus tembakau gorilla seberat 1.501,5 gram. “Tersangka RY, RF, dan FR membeli dari MY. Saat ditanya MY mengaku tembakau gorilla di dapat seseorang di Surabaya,” papar Iriawan.

Kapolda menjelaskan WT memasang harga Rp450 ribu untuk sebungkus isi 5 gram tembakau racikan. “Dia mengaku bisa untung berlipat-lipat dan kami menyita beberapa rekening dengan saldo yang cukup besar,” jelasnya.

Dari total barang bukti yang disita dengan asumsi 1 gram Rp100 ribu maka diperkirakan senilai Rp400 juta dan dapat menyelamatkan 12.000 jiwa.

Pelaku dikenakan Pasal 114 ayat (2) subsider Pasal 112 (2) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika juncto Permenkes RI Nomor 2 Tahun 2017, dengan ancaman pidana hukuman mati, penjara seumur hidup, penjara paling singkat 5 tahun dan paling lama 20 tahun. (yendhi)