Wednesday, 21 November 2018

Seperti Mati Suri

Pasar Santa Sepi, Pedagang Minta Plt Gubernur Blusukan

Jumat, 3 Februari 2017 — 8:24 WIB
Pedagang sedang merapikan kios di lantai 1 di deretan kios di Pasar Santa, Jaksel yang banyak tutup akibat pembeli semakin sepi. (Rachmi)

Pedagang sedang merapikan kios di lantai 1 di deretan kios di Pasar Santa, Jaksel yang banyak tutup akibat pembeli semakin sepi. (Rachmi)

JAKARTA (Pos Kota) – Kalangan pedagang di lantai 1 Pasar Santa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan mendesak Plt Gubernur DKI Jakarta, Sumarsono blusukan ke pasar tersebut. Sejak sewa kios dinaikkan pengembang secara sepihak, pedagang setempat banyak yang menutup usahanya lantaran sepi pembeli.

“Plt Gubernur DKI kapan sidak ke Pasar Santa khususnya di lantai 1? Kondisi di sini seperti mati suri,” keluh Anza, pedagang makanan yang berjualan di food court lantai 1.

Ia mengaku tahun ke2 mengontrak di pasar ini. Sebelumnya berjualan di area dalam lantai 1 dan sekarang mencoba peluang bisnis di food court. Anza menyewa kios berukuran 2×4 meter persegi (M2) Rp10 juta/tahun berikut wastafel dan dapur. Namun pembeli yang datang sangat minim. Beruntung ia tertolong karena melayani pesanan melalui online.

Keluhan serupa dilontarkan M. Najat, pedagang minuman. Ia kini mengontrak counter 1,5×1 M2 Rp6 juta/tahun. Sebelumnya ia harus mengeluarkan Rp10 juta- Rp15 juta/tahun untuk counter berukuran tersebut.

“Saya akan minta ke pengembang untuk menurunkan harga counter karena kondisi yang tak menguntungkan. Jika begini terus, usaha saya bisa bangkrut,” keluhnya.

Pantauan Pos Kota, di lantai 1 yang terdapat ratusan kios dan counter mayoritas tampak digembok. Deretan kios di sejumlah lorong tutup dan melompong. Praktis suasana sepi senyap dan membuat sejumlah pengunjung akhirnya memilih turun dan pulang.

Sebagian pedagang berspekulasi dengan memilih bertahan, tapi berharap pengelola pasar dan PD Pasar Jaya dapat menggebrak pasar dengan promosi yang intens dan berkelanjutan. Serta yang utama harga sewa kios harus diturunkan dari sebelumnya.

“Sempat dua tahun lalu lantai 1 ramai oleh komunitas kreatif. Tapi di saat ramai pembeli, pengembang justeru menaikkan sewa kios puluhan juta rupiah per tahun,” keluh Iwan, pedagang kopi lokal.

M. Subhan, Kepala Pasar Santa mengakui pasar semakin ditinggal para pedagang lantaran melejitnya sewa kios oleh PT Inter Wahana Nuansa (IWN), selaku pengembang sejak merenovasi pasar itu pada 2007. Adapun pasar memiliki lantai semi basement, lantai dasar dan lantai satu di lahan sekitar 10.000 M2.

Dikatakannya, kondisi terparah di lantai 1 yang merupakan area food court, pedagang pakaian dan tas hingga yang berjualan piringan hitam. Di lantai satu terdapat 289 kios, 5 counter, 32 kios foof court dan 24 counter food court.

“Dari ratusan kios dan counter di lantai satu, yang terisi hanya sekitar 60an,” ungkapnya.

Sementara itu Manager Area 1 Jaksel, Mafudin menyatakan pihaknya sudah mengultimatum pengembang melalui surat tertulis supaya tidak menaikkan sewa kios selama 3 tahun mendatang.

“Kami mengakomodir keluhan maupun kebutuhan para pedagang khususnya di lantai 1 Pasar Santa agar mereka tetap bisa eksis berusaha sehingga pasar kembali ramai,” jelasnya.

Namun ia belum mau merinci terkait titik temu sewa kios antara permintaan pedagang maupun dari pihak pengembang. Karena harus dikaji oleh manajemen pusat.

(rachmi/sir)