Wednesday, 29 March 2017

Mantan Penyadap Tulen

Sabtu, 4 Februari 2017 — 4:54 WIB
dullll

Oleh S Saiful Rahim

“WADUH ini sudah benar-benar bikin galau,” kata orang yang baru masuk ke warung kopi Mas Wargo, dan langsung duduk di sisi kanan Dul Karung.

“Apa yang bikin galau? Anda masuk tanpa memberi salam itulah yang bisa membuat galau. Kalau tak terbiasa mengucapkan assalamu alaykum, ucapan sampurasun pun kami terima sebagai ucapan salam. Atau kulo nuwun juga boleh. Bangsa kita memang terdiri dari banyak suku dan aneka budaya serta tradisi,” tanggap orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang dengan nada suara yang jelas mengandung protes.

“Oh ya. Maaf!” kata orang yang baru masuk itu seraya menyambung dengan ucapan assalamu alaykum warahmatullahi wabarakatuh dengan amat fasih.

“Nah, begitu dong. Sekarang silakan bicara tentang apa yang Bung anggap bikin galau itu,” ujar orang yang memprotes.

“Ya sebenarnya tidak terlalu luar biasa. Hanya soal, soal apa ya? Katakanlah soal mantan presiden kita SBY yang merasa dihalang-halangi ingin bertemu dengan Presiden Jokowi. Dan yang terbaru soal Pak SBY merasa telepon beliau disadap,” jawab orang yang duduk di sisi kanan Dul Karung.

“Yang aku tidak paham mengapa yang berurusan dengan masalah yang kau sebutkan itu adalah mantan presiden dengan presiden yang berkuasa. Yaitu Pak SBY ingin bertemu dengan Pak Jokowi, tapi Pak SBY merasa ada yang menghalang-halangi, kau kok yang menjadi galau. Ada apa dengan kamu?” komentar orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang lagi.

“Apakah kau orang yang menjadi penghalang itu?” sambar orang yang duduk selang tiga di kanan Dul Karung.

“Wah! Hebat sekali kalau Bung memiliki kemampuan untuk menghalangi pertemuan seorang mantan presiden dengan presiden yang masih berkuasa,” sambung seseorang entah siapa dan duduk di sebelah mana.

“Kalau aku yang menjadi penghalang pertemuan Pak SBY dan Pak Presiden, aku pasti tidak galau. Yang membuat aku galau justru karena ada orang, atau oknum, yang menjadi penghalang pertemuan tersebut. Selama ini kita semua tahu, Presiden Jokowi itu suka, atau setidak-tidaknya pernah, bertemu dengan rakyat kelas kakilima. Masak beliau tidak mau ketemu dengan seorang presiden pendahulunya? Aneh kan?” tegas orang yang duduk di sisi kanan Dul Karung.

“Ah, sudahlah! Jangan ngomongin yang kayak begitu di warung kopi, itu adalah percakapan kalangan mantan presiden dan presiden saja. Bukan omongan kelas warung kopi,” oceh Dul Karung asal bunyi saja.

“Sulit membuat omongan seperti itu tidak merembes ke kelas orang jelata seperti kita ini. Sudah menjadi catatan sejarah, rakyat jelata itu bercerminnya kepada mereka yang berada di atasnya. Para elite dijadikan panutan oleh si jelata. Dan kata pepatah tua, “Bila uang dititipkan jumlahnya bisa berkurang, tapi bila omongan dititipkan pasti berkembang,” sela Mas Wargo yang pendiam, tapi kalau sekali bicara terasa isinya dalam.

“ Yang menjadi perhatianku dan sekaligus membuat aku prihatin bukan soal adanya penghalang yang membuat pertemuan Pak SBY dengan Presiden Jokowi sulit terjadi, tapi adanya entah siapa, yang menyadap telepon Pak SBY. Ini memang keterlaluan,” kata orang yang duduk di depan Mas Wargo seraya menggebrak meja sehingga isi gelas minumannya muncrat.

“Kalau Pak SBY mengatakan telepon beliau disadap, itu artinya beliau memang menelepon seperti yang diungkap di dalam sidang pengadilan Ahok dong?” kata orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang.

“Wah, kalau sudah bicara soal sadap penyadap aku akan pergi saja. Karena aku adalah salah seorang mantan penyadap tulen. Salah satu mata pencarian almarhum ayahku adalah jualan tuak alias nira. Menyadap tuak dari pohon kelapa atau pohon enau adalah pekerjaan utamaku dulu,” kata Dul Karung tiba-tiba sambil pergi meninggalkan warung Mas Wargo. (syahsr@gmail.com )