Friday, 20 September 2019

Profesor Malas Berkarya Tunjangan Kehormatan Akan Distop

Minggu, 5 Februari 2017 — 10:33 WIB
tut wuri

JAKARTA (Pos Kota)-Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek Dikti (SDID) Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) akan melakukan evaluasi kinerja dan produktivitas guru besar atau profesor di berbagai perguruan tinggi.

Dari hasil evaluasi tersebut nantinya pemerintah akan mencabut tunjangan kehormatan bagi profesor yang tidak produktif dalam menghasilkan karya-karya ilmiah.

“Evaluasi akan dilaksanakan hingga akhir 2017 mendatang. Jika sampai waktu tersebut masih ada profesor yang tidak produktif, maka tunjangan kehormatannya akan kami cabut,” kata Dirjen SDID, Ali Ghufron Mukti.

Menurut Ghufron, jika seorang profesor sampai akhir 2017 tidak memperlihatkan produktifitasnya maka tunjangan kehormatannya akan dihentikan. Produktivitas salah satunya diukur melalui publikasi yang dihasilkan, terutama publikasi internasional.

Untuk evaluasi kinerja dan produktivitas profesor/guru dilakukan dengan memperhitungkan karya ilmiah sejak tahun 2015 lalu.

Para profesor atau guru besar sendiri sebenarnya cukup membuat publikasi di jurnal internasional sekali dalam setahun. Langkah tersebut bertujuan untuk menghasilkan SDM atau dosen yang berkualitas dan berdaya saing tinggi.

Biasanya profesor selain mendapat gaji pokok juga mendapat tunjangan profesi sebesar satu kali gaji pokok dan tunjangan kehormatan sebesar dua kali gaji pokok. Bagi profesor yang tidak produktif nantinya yang akan diberhentikan hanya tunjangan kehormatannya, sedangkan gelar maupun tunjangan lainnya tetap.

Karena itulah Ghufron mengingatkan, kalau sampai seorang profesor tidak produktif maka nanti tunjangan kehormatannya akan dihentikan. Saat ini ketentuan masih dalam proses sosialisasi walaupun surat edarannya sudah disampaikan ke setiap perguruan tinggi.

(faisal/sir)