Tuesday, 13 November 2018

Mengincar Bini Tetangga Mati Digebuki

Senin, 6 Februari 2017 — 6:53 WIB
gebuki

ISTRI sudah punya, anak juga ada, eh…..Samijo, 56, masih juga mengincar bini tetangga. Pernah sekali berhasil menodai Ny. Parsih, 40, ternyata jadi ketagihan. Beberapa malam lalu mau “nambah” lagi. Tapi belum kesampaian sudah dipergoki suaminya. Tak ayal Samijo digebugi rame-rame hingga meninggal di tempat.

Rejeki, jodoh dan kematian itu sudah dijatah masing-masing oleh Sang Pencipta. Jika rejekinya kecil, atau bininya jelek, tak perlu mengirikan diri pada tetangga, karena memang sudah diatur dari sononya. Tinggal kita syukuri saja. Allah Swt sudah mengingatkan, yang mensyukuri nikmat-Nya akan ditambahkan rejekinya.

Rupanya Samijo warga Wates, Kabupaten Kediri (Jatim) tak bisa bersikap demikian. Bininya jelek, protesnya baru sekarang, ketika sejumlah anak sudah lahir. Justru kini diam-diam dia mengincar bini tetangga, Parsih, yang memang jauh lebih muda ketimbang istrinya. Jelas lebih kenceng dan lebih cantik pula.

Samijo tak menyadari, betapapun cantik dan seksi bini orang, itu hanyalah “ikan hias” yang hanya boleh kita lihat-lihat saja. Jangan sekali-kali membayangkan atau mencoba untuk menggorengnya, meskipun gurih juga sebetulnya. Sebab bagaiamanapun juga tak sebanding antara nikmat dan mudlaratnya. Orang Jawa bilang: penake saklentheng dosane sak rendheng.

Tapi Samijo tak peduli akan semua itu. Asal melihat Parsih yang seksi menggemaskan, otaknya langsung jadi ngeres mendadak, membayangkan yang mboten-mboten. Setan paling demen ketemu lelaki model begini, sehingga gairah Samijo untuk bisa mendekati Parsih semakin dipacu. “Suaminya kan sering pergi, sikat saja Bleh.” Kata setan mempengaruhi.

Beberapa waktu yang lalu Samijo berhasil menodai Parsih secara paksa. Sudah barang tentu suaminya tidak terima. Tapi kala itu berhasil diredam, Kamidi, 45, suami korban batal mengadukan ke polisi. Tapi Samijo bikin perjanjian di atas meterai Rp 6.000 bahwa tidak lagi akan mengganggu bini tetangga berikut jajarannya.

Tapi ternyata itu hanya formalitas belaka. Karena keasyikan berhasil memperkosa Parsih, justru ketagihan. Rupanya dianggapnya: numpak becak menyang Madiun, krasa penah wegah mudhun (berasa enak ogah turun). Lain waktu dia ingin kembali menikmati tubuh sintal Ny. Parsih. Dia sama sekali tak menghargai Kamidi selaku pemilik aset.

Berulangkali dia berusaha masuk ke kamar Parsih, tapi berhasil digagalkan, karena penjagaan berlapis. Tapi apa setiap hari Kamidi harus mengawasi istri? Lalu kapan kerjanya? Capek deh! Maka kali ini Kamidi ingin memberi pelajaran, sebagai shok terapi. Dia harus tahu bahwa Kamidi adalah pria sejati yang tak bisa diremehkan, sedumuk bathuk senyari bumi.

Beberapa hari lalu Kamidi pura-pura pergi, padahal bersama anaknya dia memantau dari luar. Ternyata benar. Sekitar pukul 22.00 Samijo masuk ke rumahnya lewat pintu belakang. Tak ayal lagi Kamidi dan anak lelakinya segera menangkap dan menghajarnya pakai pentungan berkali-kali. Dengan kepala berdarah Samijo lari ke rumah.

“Kenapa Pak, kok kepalamu berdarah begini?” tanya sang istri. Tapi Samijo tak menjawab kecuali langsung ambruk, sementara di luar Kamidi terus menantangnya. “Kalau berani ayo keluar!” katanya. Istri mencoba menolong Samijo, tapi keburu meninggal. Gegerlah desa Sidomulyo, dan Kamidi jadi urusan polisi.

Samijo sendiri yang ora urus, sih! (BJ/Gunarso TS)