Tuesday, 20 November 2018

Awalnya Terbakar Isu, Akhirnya Bakar Rumah

Selasa, 7 Februari 2017 — 6:20 WIB
bakar

HANYA orang berpikiran picik mudah terbakar isu. Maka Sulomo, 29, dengar istri dikencani tetangga, langsung emosi. Tanpa pakai tabayun segala, serta merta mendatangi rumah Warsono, 36, dan main bakar rumah orang. Akhirnya dia yang menyesal sendiri, karena harus berurusan dengan polisi dan membayar ganti rugi.

Pepatah lama mengatakan, jika takut dilembur pasang jangan berumah di pinggir pantai. Artinya adalah, jika tak berani menanggung resikonya, jangan suka menantang bahaya. Misalnya, jika takut istrinya yang cantik digodain orang, sebaiknya ambil istri yang jelek kayak Limbuk saja. Pasti aman, ditinggal pergi lama pun tanpa gangguan.

Rupanya Sulomo warga Tambusai Utara, Kabupaten Rohul, Riau, belum pernah menerima pencerahan semacam itu. Paling tidak, saat sekolah SMA dulu, pas pelajaran Bahasa Indonesia yang mengajarkan peribahasa itu, Warsono nggak masuk. Akhirnya dia tidak memperoleh nasihat berguna bagi kehidupannya kelak.

Tapi Sulomo memang termasuk lelaki mujur. Meski tampang sangat standar, penampilan juga pas-pasan, eh…..bisa memiliki istri yang cantik. Seksi, putih, betis mbunting padi lagi. Jadi kalau jalan berdua suami istri ini seperti gagak bersama blekok, yang satu hitam yang satu putih. Bahkan ada yang meledek di belakang, “Gagak gondol telur ayam!” Maksudnya: Sulomo gagaknya, dan Atikah, 25, telurnya.

Adalah Warsono, tetangga Sulomo yang hanya selang beberapa rumah. Dia orangnya humoris, suka bercanda. Hanya saja jika bercanda kelewatan. Bagi yang belum kenal kelakuan Warsono pasti kaget atas gaya candaannya. Semua orang oleh Warsono selalu diajak bercanda, dikiranya semua bisa menerima candaannya, termasuk Sulomo.

Sekali waktu Warsono melihat suami istri ini jalan bareng, tapi Sulomo jauh di depan dan Atikah istrinya jauh ditinggalkan di belakang. Langsung saja ditembaknya, “Istri kok ditinggal begitu saja. Kalau nggak dipakai, buat saya saja deh….,” kata Warsono sambil senyum. Tapi rupanya Sulomo malah cemberut.

Sulomo memang bukan ulama, sehingga tidak bisa diajak humor. Sulomo belum pernah mendengar bagaimana dulu Gus Dur mengocok perut tamunya. Kata-kata Warsono justru dianggap pelecehan. Apa lagi Atikah istrinya hanya ketawa saja, jangan-jangan dia sudah biasa dicandai Warsono.

Karena memang lelaki picik, Sulomo ujung-ujungnya malah jadi cemburu pada Warsono. Jangan-jangan Warsono tergiur akan kecantikan istrinya. Wah, bahaya ini jika sampai terjadi perampasan aset. Maka tanpa tabayun lebih dulu, dia langsung saja bawa parang ke rumah Warsono. Maksudnya hanya untuk menakut-nakuti.

Tiba di rumah Warsono yang ada hanya istrinya, sedangkan pemilik rumah pergi. Istrinya belum ditanya sudah kabur duluan karena ada orang bawa parang. Kecewa tak bisa menemukan sasaran, Sulomo jadi ngamuk. Melihat ada jrigen minyak tanah di dapur, langsung saja dikapak. Jrigen pecah dan isinya menyambar tungku dapur yang sedang dipakai memasak.

Tak ayal lagi api jadi membesar, menyambar dinding dan membakar semuanya, dari dapur hingga rumah induk. Warga berusaha memadamkan, tapi gagal dan rumah Warsono tukang guyon itu hancur lebur jadi abu. Tapi tak urung Sulomo jadi urusan polisi, paling tidak harus mengganti seluruh kerugian Warsono.

Punya bini cantik, tapi kurang piknik. (JPNN/Gunarso TS)