Sunday, 18 November 2018

Saksi Dugaan Kasus TPPU, Bareskrim Polri Periksa Bachtiar Nasir

Jumat, 10 Februari 2017 — 13:05 WIB
Bachtiar Nasir. (yendhi)

Bachtiar Nasir. (yendhi)

JAKARTA (Pos Kota) – Bareskrim Mabes Polri memeriksa Ketua Umum GNPF MUI Bachtiar Nasir di Kementrian Kelautan dan Perikanan, Jakarta Pusat, ia diperiksa sebagai saksi dalam kasus dugaan TPPU (Tindak Pidana Pencucian Uang) terkait penyalahgunaan dana yayasan, Jumat (10/2/2017) pagi.

Bachtiar tiba di kantor Bareskrim, gedung Kementerian Kelautan dan Perikanan, Gambir, Jakpus, sekitar pukul 10.00 WIB. Bachtiar datang didampingi pengacaranya, Kapitra Ampera “Saya datang memenuhi panggilan Bareskrim, datang sebagai saksi bersama kuasa hukum saya,” kata Bachtiar

Ia sempat memberikan keterangan beberapa menit kepada awak media sebelum masuk ke kantor Bareskrim. Pemanggilan Bachtiar oleh Direktorat Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri terkait dugaan pencucian uang dengan mengatasnamakan Yayasan Keadilan untuk Semua

Kapitra sebelumnya menerangkan pihaknya mempersiapkan beberapa dokumen terkait pemeriksaan. Salah satunya akta notaris pendirian Yayasan Keadilan untuk Semua.Selain Bachtiar, Polri memanggil Novel Bamukmin terkait kasus yang sama. Sebelumnya, pada pemanggilan Rabu (8/2), Bachtiar tak menghadiri panggilan penyidik.

Kasus ini terkait dengan adanya posting-an di media sosial yang meminta masyarakat mengirimkan uang untuk aksi ‘Bela Islam III’ ke rekening khusus GNPF MUI atas nama Keadilan untuk Semua Dari posting-an itu, ada tiga nama yang menjadi penanggung jawab, yaitu Ustaz Bachtiar Nasir, Ustaz Zaitun Rasmin, dan M Luthfie Hakim.

“Hari ini sesuai dengan janji, saya dan pengacara hadir. Ketika panggilan pertama (Rabu kemarin) tidak bisa hadir, karena ada beberapa revisi surat administrasi hukum yang perlu diselesaikan, sehingga yang datang pihak pengacara dulu,” kata Nasir sebelum diperiksa.

Setelah surat panggilan direvisi Nasir menegaskan, dirinya berkomitmen taat hukum. Hal ini dibuktikan dengan kedatangannya ke Bareskrim Polri hari ini untuk menjalai pemeriksaan.

Nasir mengatakan, awal mula penggunaan rekening yayasan tersebut untuk menampung sumbangan umat yang tergerak dengan aksi Bela Islam II dan III. “Namanya kita mau ada aksi, kemudian umat tahu, Anda tahu kan orang Indonesia yang bersedekah lillahi Ta’ala. Pokoknya kepentingan mereka ke akhirat saja dan ini Bela Islam nah jadi frame-nya itu,” kata dia.

Dia meminta peristiwa ini jangan dilihat semata-mata uangnya saja. Namun karena ada umat Islam ingin membela agamanya dan diperintahkan dalam Alquran untuk berinfaq, maka mereka ikut menyumbang.

“Karena kami sebuah panitia ad hoc GNPF MUI ini, kami ga bisa bikin rekening begitu saja. Akhirnya kami kemudian melakukan semacam kerja sama secara lisan meminjam rekening yayasan itu supaya dapat dikontrol, ada badan hukum, tidak gosong,” sambungnya.

Untuk itu, ada kerja sama lisan antara Yayasan Keadilan dengan GNPF MUI. “Dalam hal ini sebetulnya sudah ada draf agreement-nya tapi karena percepatan, umat sudah menunggu, akhirnya dibukalah rekening itu,” paparnya

Kapitra menambahkan jika polisi menduga ada TPPU dalam kasus ini, tentu ada perkara pokok. Dia mempertanyakan perkara pokok dan tersangkanya.

“Pemindahan rekening ke yayasan ini dilarang (dilakukan) kepada dewan pembina, dewan pendiri, dewan pengawas, dalam struktur yayasan keadilan. Ustad Bachtiar Nasir ini tidak ada dalam struktur jadi tidak ada UU yang dilanggar,” sambungnya
(adji/sir)

  • bapak lu

    bukti kl masyarakat indonesia masih bisa dibegoin, disuruh kasih duit buat hal ga jelas