Thursday, 25 May 2017

Geruduk dan Geluduk

Sabtu, 11 Februari 2017 — 6:06 WIB

Oleh S Saiful Rahim

“MAS, geruduk itu apa artinya ya?” tanya seseorang yang baru masuk ke warung kopi Mas Wargo sambil meletakkan bokongnya di bagian kosong bangku panjang. Satu-satunya tempat duduk untuk semua pengunjung warung.

“Melempari dengan kerikil atau benda kecil seperti kerikil. Yang digereduk lazimnya rumah. Terutama gentengnya,” kata Dul Karung sebelum Mas Wargo menjawab.

“Sok tahu, kau Dul! Geruduk itu kan kosa kata Bahasa Jawa. Apa yang kau tahulah tentang bahasa ibunya Mas Wargo,” kata orang itu lagi dengan nada tinggi.

“Kosa kata geruduk itu juga ada dalam Bahasa Betawi. Bahkan selain geruduk ada kosa kata geluduk. Artinya berbeda, tetapi kalau diucapkan oleh orang cadel, terdengarnya seperti sama. Bila geruduk artinya melempari atau menghujani dengan kerikil, geluduk adalah guntur atau geledek,” ujar Dul Karung dengan bergaya sebagai dosen yang sudah mencapai tingkat profesor.

“Aku lihat di televisi dan baca di medsos, mantan Presiden SBY mengadu rumahnya digeruduk mahasiswa,” jawab orang yang baru saja masuk dan duduk di warung kopi Mas Wargo itu.

“Oo itu? Kalo itu sih bukan digeruduk beneran. Cuma didatangi oleh serombongan anak muda yang kalau kita lihat jaketnya, boleh jadi mereka adalah mahasiswa. Sebutan digeruduk oleh Pak SBY hanya kiasan belaka. Bukan benar-benar digeruduk,” kata orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang sebelum menyeruput kopi susu yang terhidang di meja depannya.

“Apakah kedatangan pemuda berjaket itu ke rumah Pak SBY bukan bermaksud berunjuk rasa?” tanya orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang.

“Rasanya begitu. Pak SBY pun tampaknya beranggapan seperti itu,” tanggap seseorang entah siapa dan entah pula duduk di sebelah mana.

“Kukira tidaklah. Kalaupun benar mereka bermaksud demo, kukira agak aneh,” serobot orang yang duduk selang tiga di kanan Dul Karung yang tampaknya senang memakai kata “kukira.”

“Mengapa Bung beranggapan begitu? Apanya yang aneh?” tanya orang yang duduk tepat di sebelah kanan Dul Karung.

“Kan biasanya yang didemo itu orang-orang yang masih punya jabatan utama. Entah presiden, gubernur, walikota, dan lain-lain. Ingat saja Presiden Soekarno dan Presiden Suharto. Pak SBY ketika menjadi Presiden seingatku tidak pernah didemo. Baik oleh mahasiswa, ormas, orpol, atau organisasi lainnya,” sanggah orang yang duduk selang tiga di kanan Dul Karung.

“Mungkin orang-orang yang Pak SBY sebut menggeruduk rumah beliau itu adalah orang-orang yang ingin bersilaturahim saja. Tetapi Pak SBY salah sangka,” tukas Dul Karung menarik perhatian seluruh orang yang berada di warung. Termasuk Mas Wargo yang biasanya tidak suka turut campur obrolan pelanggannya.

“Maksudmu apa, Dul?” celetuk Mas Wargo.

“Ada kebiasaan lama yang baik di masyarakat Betawi. Setiap kali ada warga baru pindah ke suatu kampung, penduduk lamanya akan berdatangan bersilaturahim. Semacam mengelu-elukan warga baru tersebut. Biasanya mereka datang dengan membawa kue bugis. Sejenis kue yang dibuat dari tepung beras dan di dalamnya diisi dengan unti, yaitu kelapa parut yang diberi gula jawa, untuk keluarga baru tersebut.

Barangkali orang yang disebut menggeruduk rumahnya oleh Pak SBY itu adalah orang-orang Betawi yang ingin bersilaturahim. Pak SBY kan baru pindah ke daerah yang dulunya menjadi pusat permukiman orang-orang Betawi peternak sapi perah dan pabrik tahu,” kata Dul Karung sambil melangkah cepat-cepat meninggalkan warung, sehingga dia tidak mendengar suara “huuuuu” panjang yang keluar dari mulut orang yang ada di warung. (syahsr@gmail.com )