Thursday, 15 November 2018

Istri Tidak Memuaskan Anak Tiri Dihamili Dua Kali

Selasa, 14 Februari 2017 — 7:10 WIB
duakalii

USIA Kardoyo, sudah kepala lima, tapi hasratnya masih menyala-nyala. Sedangkan istrinya, Atikah, 40, dalam usia itu sudah tak lagi mampu memberi layanan prima. Akibatnya Kardoyo nabrak-nabrak. Anak tirinya, Rukmini, 18, dihamili sampai dua kali, hingga akhirnya jadi urusan Polsek Karangpilang, Surabaya.

Sudah berulangkali diingatkan di kolom ini, bila menjanda dengan status punya anak gadis, hati-hati memilih suami pengganti. Harus melalui seleksi yang ketat, kalau perlui test and property meski bukan di DPR. Sebab di era gombalisasi ini banyak bapak tiri yang doyanan. Sama ibunya mau, dengan anaknya juga nggak nolak.

Kardoyo yang tinggal di Karangpilang, Surabaya, ternyata termasuk lelaki yang harus diwaspadai. Lima tahun lalu dia menikah dengan janda Atikah yang sudah punya anak bawaan. Rupanya si janda kurang selektif. Kenal dengan duda Kardoyo, mentang-mentang dia lelaki mapan, langsung saja menyetujui ketika diajak menikah. Apa lagi Rukmini sebagai anak juga tak keberatan ibunya menikah lagi setelah setahun menjanda..

Kardoyo memang memiliki cara pendekatan yang bagus, komunikasinya memikat, sehingga layak ikut nyagub di DKI. Maka ketika lelaki ini mampu mengakrabi putrinya, Rukmini, Atikah siap saja diajak ke penghulu. Jadi janda sampai setahun tidak nyaman lho, setiap malam kedinginan. Maka benar kata orang Surabaya, dadi randha ngentekna klasa.

Setelah menikah lagi, kehidupan Atikah bersinar kembali, dan setiap malam juga selalu ceria. Sayangnya, sekian tahun menikah dengan mamanya Rukmini, tak juga ada penghuni baru, bayi hasil kerjasama nirlaba suami istri tersebut. Padahal maunya Kardyo, istri bisa memberikan momongan baru sebagai penerus sejarah. Kardoyo memang ingin sekali gendong anak bayi, jadi kayak Jaka Tarub dalam dongeng.

Karenanya sekarang sang istri dianggap wanita double problem. Tidak bisa memberikan keturunan, juga tak nyaman lagi dalam urusan ranjang. Kata Kardoyo, jan kaya gedebog (mirip batang pisang). Padahal maunya maunya sopir truk ini, Atikah mampu seperti kuda binal, nyepak-nyepak nggak keruan. Hieehhh, hieehhh, blrrrrrr……

Di kala pada bini sendiri sudah kehilangan selera, eh….anak tiri kok semakin gede semakin seksi menggiurkan. Kebetulan setan melihat atas keterkaguman Kardoyo pada anak tiri. Langsung saja setan nimbrung, siap jadi timsesnya. “Saya siap bantu apa saja Bleh, asal bukan bantuan keuangan.” Kata setan sambil beralasan, dirinya memang bukan setan kelas tuyul.

Demikianlah, dengan bujuk rayu akhirnya Kardoyo berhasil menggauli anak tirinya, yang ternyata memang “jan tanja tenan”, kata orang Yogya. Sejak itu dia jadi ketagihan. Pada istri sudah jarang dilakukan, pada anak tiri dilakukan kapan saja sepanjang situasinya mantap terkendali.

Suatu saat Rukmini hamil. Dengan cepat Kardoyo mengantisipasinya, agar kasus penistaan anak tiri ini tak melebar ke mana-mana. Dengan diberi ramuan jamu jawa “lebur turun” si janin bisa digugurkan. Tapi begitu Rukmini sudah sehat kembali, Kardoy pengin lagi, sehingga anak tiri itu dicemplak lagi seperti kuda balap. Lagi-lagi untuk kedua kalinya Rukmini hamil.

Tapi kali ini dia ogah dipaksa minum jamu peluntur janin. Justru dia melapor kepada sang ibu. Tentu saja Ny. Atikah tidak terima, anak kandungnya dirangkap sekalian oleh suami. Dia segera lapor ke Polsek Karangpilang, dan Kardoyopun ditangkap. Dalam pemeriksaan dia mengakui, terpaksa menggauli anak tiri karena istri sudah tak nyaman lagi dikendarai.

Bawa ke bengkel, ganti olie dan tune up dong ah! (JPNN/Gunarso TS)