Saturday, 23 September 2017

Diajak Cari Kayu di Hutan Adik Ipar Dinodai Tiga Kali

Rabu, 15 Februari 2017 — 6:35 WIB
rumput

ADA saja akal lelaki hidung belang. Seperti Dahnil, 27, ini misalnya, ketika ingin ngremus adik iparnya, Santi, 20, pura-puranya diajak cari kayu bakar di hutan. Tapi di hutan nan sepi itu tiba-tiba Santi disergap dan dinodai. Anehnya, katanya diperkosa kok bisa terjadi sampai 3 kali dan di tempat yang sama pula.

Menjadi lelaki hidung belang agaknya diperlukan bakat dan minat. Minat ada, tapi jika tak ada bakat, ya sia-sia saja. Bahwa lelaki melihat perempuan cantik langsung tertarik, itu normal. Tapi untuk lebih ke sononya, diperlukan kemampuan khusus. Sebab perempuan itu bukan barang, yang asal cocok harga langsung bisa dibawa. Dia punya jiwa dan perasaan. Bila pintar, punya minat dan ada bakat, tanpa modal uang pun bisa mendapatkan perempuan yang menggamit rasa merangsang pandang.

Dahnil warga Sidomulyo, Lampung Selatan, memang lelaki normal. Ketika melihat adik iparnya tambah gede tambah seksi, hasratnya muncul juga. Ini namanya ada minat. Tapi untuk bisa melampiaskan hasratnya tersebut, dia sama sekali tak ada keberanian. Sebab ada rasa takut. Takut ketahuan istri, takut ditolak pula oleh Santi selaku pihak yang berkompeten.

Maka ketika adik ipar ini sering main ke rumahnya, dia jadi seperti kucing nggondol sabun, kala menjing munggah mudun (baca: ngiler). Tapi Dahnil tak tahu, harus dari mana memulainya. Nah, ketika dia dalam kondisi kesulitan tersebut tiba-tiba ada setan mendekati, lalu katanya: “Ajak ke hutan, pura-pura cari kayu begitu, nanti baru digituin….”

Oh iya, kata Dahnil sambil tepuk jidat. Tapi masak di hutan begituan, lalu alasnya apa? Bisa digigit ular, paling tidak kena krawe (tumbuhan berbulu gatal). Apa baiknya bawa tikar saja, ya? “He, kamu di hutan mau tidur apa mau memperkosa adik ipar, tolol!” sergah setan kemudian saking kesalnya, punya murid satu saja kok bodo amat.

Akhirnya tanpa properti secukupnya, Dahnil benar-benar mengajak Santi ke hutan dengan alasan mencari kayu bakar. Tanpa curiga si gadis nan seksi itu mengiyakannya. Lalu keduanya berangkat, disaksikan suara kinjeng tengis dan gareng pung. Dalam kondisi sepi, suasananya menjadi nampak romantis sekali.

Lagi-lagi karena memang tak punya bakat, to the point saja Dahnil langsung mengajak hubungan intim bak suami istri. Tentu saja Santi menolak dengan ketus. Nah, karena tak punya bakat itulah kemudian Dahnil memaksakan kehendak dengan ancaman siap membunuhnya jika ditolak. Dalam kondisi terpaksa Santi terpaksa melayani nafsu kakak iparnya tersebut.

Tahu kelakuan kakak iparnya begitu, lain hari diajak ke hutan masih mau juga. Lagi-lagi di sana, dengan beralaskan rerumputan Santi direnggut kehormatannya untuk yang kedua kali. Santi pringas-pringis kesakitan, tapi Dahnil prengas-prenges penuh kebahagiaan. Sudah kenyang dan puaskah?

Jawabnya: belum! Sebab beberapa hari lalu kembali Santi dibawa ke hutan dan diajak “coblosan”non pilkada serentak. Tapi kali ini sang adik ipar benar-benar merasa dijadikan budak seks kakak ipar. Maka setibanya di rumah langsung mengadu kepada ibunya, dan Dahnil pun dilaporkan ke Polsek Sidomulyo. Setelah ditangkap, dalam pemeriksaan Dahnil mengaku nafsu sekali jika melihat adik iparnya.

Makanya, orang Jawa bilang: ipe (ipar) itu kepanjangan: iki ya penak. (JPNN/Gunarso TS)