Friday, 23 June 2017

Jujur vs Fitnah di Panggung Politik

Kamis, 16 Februari 2017 — 5:13 WIB

SETELAH bebas, Antasari Azhar tak dinyana-nyana mendatangi Bareskrim Polri. Melaporkan SBY yang dirasa telah mengkriminalisasi dirinya karena menahan Aula Pohan, sang besan, yang tersangkut korupsi dana Yayasan Pengembangan Perbankan Indonesia.

Antasari, mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), itu di markas kepolisian meminta Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) jujur kepada publik. Semasa jadi Presiden RI memerintahkan apa dan siapa yang melakukan sehingga dirinya divonis 18 tahun penjara dengan tuduhan gara-gara skandal cinta segitiga menewaskan Nasrudin Zulkarnaen, pengusaha asal Makassar.

Belum cukup sampai di situ. Pria berkumis tebal ini juga menyebut Hary Tanoesoedibjo (HT) pengusaha, kala itu diutus ‘Cikeas’ untuk meminta agar tersangka Aulia Pohan tidak ditahan. Datang malam hari sambil mengingatkan keselamatan dirinya bila tetap menahan sang besan.

Manuver bekas narapidana yang baru beberapa hari dapat pengampunan bebas murni dari Presiden Joko Widodo itu bagai api menyambar bensin. Suhu politik sehari jelang pemilukada tambah memanas.

Lebih-lebih di Ibukota Jakarta kejadian itu menyerupai puncak arus balik gegap-gempitanya proses pemilukada yang anatara lain diikuti Agus Harimurti Yodhoyono sebagai calaon gubernur. Berdasarkan hasil hitungan cepat, sore kemarin, perolehan suara putra SBY satu ini gagal memimpin Jakarta.

Persoalan hukum beraroma politik dibuktikan upaya Partai Demokrat pada hari yang sama balik melaporkan Antasari ke Bareskrim Polri . Tidak dilakukan SBY pribadi. Wakil Sekjen Partai Demokrat Didi Irawadi menuding Antasari memfitnah dan mencemarkan nama baik SBY.

HT yang kini menjadi Ketua Umum Partai Perindo tak mau ketinggalan. Ketika dikonfirmasi menyatakan apa yang diungkap Antasari adalah fitnah, sehingga tak perlu ditanggapi.

Menurut hemat kita, para pemangku kepentingan wajib melokalisir prahara kejujuran vs fitnah di panggung politik pemilukada demi kepentingan rakyat. Jangan sampai menggurita.

Kita wong cilik juga tak mau terlibat perseteruan orang-orang besar. Tiada guna. Gegap-gempita sejak proses awal pemilukada disulut kasus penistaan agama, tudingan perbuatan makar sejumlah tokoh masyarakat hingga asmara terlarang telah menyedot energi.

Sambil menunggu kepastian siapa pemenang pemilukada yang berlangsung aman, sekarang ini wong cilik sudah letih menghadapi kenaikan harga cabe yang belum berakhir, gegap-gempita demonstran ditambah perasaan ketar-ketir menyikapi dampak buruk negara kesulitan anggaran. Jadi jangan lagi menambah kekusahan! ***

Terbaru

Dr. Azizah MA
Sabtu, 24/06/2017 — 2:00 WIB
Puasa Melatih Kesabaran
syiar
Sabtu, 24/06/2017 — 1:30 WIB
Ied dan Syiar
Arus Lalulintas di Kaligangsa menuju tol fungsional. (ist)
Jumat, 23/06/2017 — 23:20 WIB
Kapolri: Brexit Lancar, Problemnya di Rest Area