Thursday, 25 May 2017

Dewasa Berpolitik Contohlah Tokoh Muda

Jumat, 17 Februari 2017 — 5:29 WIB

HASIL hitung cepat Pilkada DKI 2017, dua pasangan calon (paslon) Gubernur DKI Jakarta, Ahok-Djarot dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno unggul dibanding Agus Harimurti Yudhoyono (AHY)-Sylviana Murni. Hasil hitungan resmi dari KPU memang belum diumumkan, tapi dipastikan dua paslon tersebut bakal maju di putaran kedua.

Sikap ksatria ditunjukkan AHY yang langsung menyatakan menerima kekalahan, dan mengucapkan selamat kepada dua pesaingnya. Dia membuktikan jati diri sebagai prajurit sejati. Terjun ke kancah politik dengan segala konsekuensinya, kehilangan karir cemerlang di dunia militer dan gagal di pilkada, tapi tetap berlapang dada.

Wajar bila pidato AHY mendapat apresiasi banyak pihak. Berusia muda, tapi bisa menunjukkan sikap dewasa dalam berpolitik dan matang dalam berdemokrasi. Tokoh muda satu ini bahkan disebut-sebut sebagai ‘The Rising Star’ yang bakal cemerlang di masa mendatang.

Sikap dewasa juga ditunjukkan oleh seluruh warga Jakarta yang telah berpartisipasi dalam Pilkada DKI. Tak ada hingar bingar, dan proses pencoblosan hingga penghitungan suara berjalan mulus meski ditemukan beberapa kejadian yang dicurigai akan melakukan kecurangan. Patut kita acungi jempol.

Kedewasaan berdemokrasi, kedewasaan berpolitik dan kedewaan bersikap tampaknya tidak bergantung pada usia, juga tidak bergantung pendidikan. Buktinya, tidak sedikit politisi kawakan di negeri ini justru masih kekanak-kanakan. Bertengkar berkepanjangan, balas dendam, saling ‘cakar’ dan saling membuka borok.

Padahal, kedewasaan berpolitik justru harus ditunjukkan oleh politisi-politisi senior yang sudah malang melintang di percaturan politik Indonesia. Dalam kehidupan berdemokrasi, bersaing secara elegan, berkompetesi dan bersatu lagi adalah bentuk politik berbudaya.

Jadi, bagi politisi kawakan yang masih gontok-gontokan demi memuaskan syahwat kekuasaan, lebih baik berkaca dan belajar pada tokoh-tokoh muda. Sebaliknya, tokoh muda tidak perlu mencontoh perilaku buruk pendahulu mereka. Malu jadi tontonan rakyat. **