Thursday, 24 August 2017

Dituduh ISIS, Jepang Deportasi Pria Asal NTB

Jumat, 17 Februari 2017 — 7:03 WIB
Petugas Imigrasi Kanim Ngurah Rai saat meminta keterangan terhadap AM,  setibanta dari Manila,  Filipina

Petugas Imigrasi Kanim Ngurah Rai saat meminta keterangan terhadap AM, setibanta dari Manila, Filipina

JAKARTA (Pos Kota) – Kantor Imigrasi (Kanim) Ngurah Rai, Bali menahan seorang WNI, bernama AM alias Abdul Zakir, karena diduga terlibat jaringan organisasi terlarang yang ada di luar negeri (ISIS), Rabu (15/2), pukul 00.20 Wita.

Menurut Kabag Humas dan Umum Ditjen Imigrasi Agung Sampurno tersangka AM diduga melakukan kegiatan terkait ISIS, di Jepang. Lalu, oleh Otoritas Imigrasi Jepang mendeportasinya ke Indonesia.

“WNI tersebut tiba di Bandara Ngurah Rai, Denpasar dengan pesawat Philippines Airlines dengan nomor pesawat PR537 dari Manila,” kata Agung, di Jakarta, Kamis (16’2) malam

Pria kelahiran 15 April 1974, berasal dari Mataram, Lombok Barat, NTB.

Setelah didaratkan, Selanjutnya dilakukan serah terima terduga kepada pihak Densus 88 Polda Bali dan selanjutnya dibawa menuju Polda Bali untuk didalami lebih lanjut.

Namun demikian, belum diketahui secara persis tentang dugaan keterkaitan dengan ISIS. Dari keterangan hasil pemeriksaan Inigrasi, AM diketahui mengikuti pengajian dengan rekan-rekannya asal daerahnya dan teman-teman dari Pakistan, Srilangka, Iran dan Turki

KECELAKAAN MOBIL

Dari hasil wawancara singkat, diketahui AM berangkat pertama kali ke jepang tahun 1997, dengan nama Azni Muzakir. Di negeri Sakura, AM bekerja sebagai tenaga kerja kasar, yakni perbaikan bangunan.

“Dia berangkat kembali ke Jepang, 2007. Disana bekerja di perusahaan Imonoyasha Nagoya (perusahaan peleburan besi),” kutip Agung.

Penangkapan terhadap pria, yang beristerikan SM asal Solo dan dinikahi secara siri, terjadi 2016 secara tidak sengaja.

“Saat itu, isterinya mengalami kecelakaan mobil. Pihak kepolisian Jepang melihat ada foto AM di dompet SM. Lalu, kepolisian memanggil AM dan diketahui dia tinggal secara ilegal. Polisi juga menemukan izin tinggal atas nama AM adalah palsu.”

Atas pelanggaran tersebut, AM ditahan selama empat bulan di kantor polisi dan selama tiga bulan di Imigrasi setempat.

Agung mengungkapkan pula AM mengaku mempunyai rekan-rekan dari negara lain di kegiatan pengajian di Jepang, diantaranya dari Pakistan, Srilanka, Iran, Turki dan negara lain.
“Tapi, dia hanya mengenal beberapa orang Indonesia yang ada di pengajian tersebut, karena beberapa WNI tersebut berasal dari daerah yang sama yaitu dari pulau Lombok.”

Selaim itu, tambah Agung, AM mengaku tidak pernah melakukan atau belum pernah ke negara lain selain Jepang. (ahi)