Wednesday, 23 August 2017

Agustina Kenalkan Seni Tari ke Mancanegara

Sabtu, 18 Februari 2017 — 1:45 WIB
Agustina,

Agustina,

DI tengah gempuran seni dan budaya luar negeri, Sanggar Tari Ayodya Pala, salah satu wadah yang konsisten menjaga dan mewarisi seni budaya tradisional Indonesia. Di usianya ke-36, sanggar ini telah melestarikan dan mengembangkan seni dan budaya tradisional nusantara.

Tepat 24 April 1981, sanggar ini berdiri menjadi rumah kedua bagi pelaku seni berbentuk sebuah yayasan. Di yayasan ini pelaku seni aktif dan fokus melestarikan, mengembangkan sekaligus pelatihan bagi seni budaya tradisional Indonesia.

Nama Ayodya diambil dari epos Ramayana, yakni tempat Rama dilahirkan, di mana para kesatria belajar ilmu. Pala diambil dari Sumpah Palapa Majapahit karena sanggar ini mengajarkan beragam kesenian dari semua daerah di Nusantara. Sanggar yang memiliki moto “Membangun Bangsa Melalui Seni Budaya” ini telah melahirkan banyak penari profesional, pelatih tari, dan pekerja seni.

“Secara langsung sanggar ini telah memberikan peluang pekerjaan kepada anggotanya. Sedangkan menari tidak dapat dilakukan secara instan, apalagi tari tradisional. Menari haruslah sabar dan ulet, tak boleh gampang putus asa dan harus dilakukan terus-menerus, layaknya atlet olahraga,” kata Budi Agustinah, 45, pemimpin sanggar ini.

BELAJAR NARI

Ketika belajar menari pada usia empat tahun, Agustinah melakukannya karena dorongan orangtuanya, H Radikin dan Ny Suminah, keduanya paramedis RSCM Jakarta asal Kroya, Jawa Tengah. Doroangan aya dan ibunya itu yang membuat wanita kelahiran Jakarta 16 Agustus 1962 ini akhirnya jatuh cinta pada seni tari. “Kala itu saya masih kelas I SD,” kenangnya.

Pengalaman pertamanya menari di pentas nasional pada tahun 1977 ketika ikut misi kebudayaan sebagai wakil DKI Jakarta, ke Surabaya, Malang, Yogyakarta, dan Solo. Pada tahun itu Agustinah lulus dari SMPN Depok dan tercatat sebagai siswa teladan se-Kabupaten Bogor. (Kala itu Depok, salah satu kecamatan di Kabapten Bogor).

Sedangkan pertama kali ke luar negeri ketika dia duduk di kelas I SMA
tahun 1978. Kala itu dia pentas menari ke Kuala Lumpur, Malaysia. Hingga kini hampir semua negara di belahan dunia pernah dijelajahinya. Selepas SMA, ia merintis pendirian sanggar tari ini di Jalan Melati Raya, Depok.

TARI TRADISIONAL

Agar sanggar tari ini tetap eksis, dia mengembangkan sayap bukan hanya mengajarkan tari Jawa dan Sunda, tapi juga tarian tradisional dari seluruh Nusantara. Sepuluh tahun pertama, sanggar ini siswanya anak-anak dari masyarakat menengah ke bawah. Namun, sejak 1991 hingga kini, banyak orangtua dari berbagai kalangan memasukkan anak-anak mereka ke sanggar ini.

Dia kini memiliki kantor berlantai tiga di kawasan Kompleks Ruko D Mal Blok A 9, Jl. Raya Margonda. Di sini dia juga membuka kelas terpadu untuk belajar tari, olah vokal, dan modeling. “Dari sini talenta anak-anak akan mudah tergali,” ucapnya. Sangar ini terus berkembang, bahkan menjadi organisasi entertain yang menjual beragam paket kesenian, event organizer, penghubung artis, dan menjual jasa konsultan.

Saat latihan, anak-anak asuhnya diwajibkan bercakap-cakap dalam bahasa Inggris karena ia ingin lulusan Ayodya Pala mendunia dan mampu menjadi guide bagi dirinya sendiri. “Anak-anak juga tak boleh menggunakan tank-top dalam latihan,” kata ibu tiga putra ini hasil pekawiannya dengan Baas Cihno Sueko,54.

SANGGAR SENI & BUDAYA

Salah satu obsesi Agustinah adalah membangun sanggar seni dan budaya di Depok atau di Jakarta yang sekelas dengan Pedepokan Bagong Kussudiardjo di Yogyakarta dan Mang Ujo di Bandung. “Tidak semata-mata kami mencari keuntungan, sebab kami ingin pula membangunn karakter manusia Indonesia lewat seni dan budaya di
sanggar ini,” ujarnya.

Salah satu lulusan Ayodya Pala, Dwi Krisna Handayan. Mahasiswa sebuah perguruan tngi swasta progra D3 Sekretaris ini membiayai sendiri kuliahnya. Bahkan dia pernah melanglang buana ke Jerman, Korea, dan China. “Alhamdulillah, Ayodya Pala sering ditunjuk untuk mewakili Indonesia ke luar negeri,” tuturnya.

Dengan menari, tambah Yulli, dirinya telah menjadi warganegara yang cinta budaya sendiri. “Dan kami (penari tradisional) insya Allah akan terus mengepakkan sayap guna memperkenalkan budaya Indonesia,” tandasnya. (anton)