Friday, 23 June 2017

Kesehatan Mental Trump, Apa yang Diperdebatkan?

Sabtu, 18 Februari 2017 — 0:51 WIB
Presiden Donald  Trump bersma cucu di Gedung Putih (reuters)

Presiden Donald Trump bersma cucu di Gedung Putih (reuters)

AMERIKA– Perdebatan tentang kesehatan mental Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, muncul setelah adanya surat terbuka dari puluhan ahli kesehatan mental yang menyatakan ‘ketidakstabilan emosi berat’ yang diderita membuatnya tidak pantas menjabat sebagai presiden.

Pernyataan tersebut tampak melanggar peraturan yang telah lama dicanangkan di kalangan ahli agar tidak mendiagnosis sosok publik, dan sudah dikecam oleh seorang psikiater terkemuka, yang menjelaskan ‘penyebutan nama’ adalah penghinaan terhadap penderita kesehatan mental.

Sebenarnya perdebatan tentang kesehatan mental Trump bukanlah sesuatu yang baru, dan bahkan muncul sebelum pemilihan presiden November lalu.

Namun, sebagian besar ahli kejiwaan menahan diri untuk tidak membuat pernyataan publik, sejalan dengan prinsip yang mereka terapkan sendiri -yang dikenal dengan peraturan Goldwater- yang ditetapkan oleh Asosiasi Psikiatris Amerika (APA) pada 1973.

Peraturan tersebut melarang psikiater untuk memberikan diagnosis tentang seseorang yang belum pernah mereka periksa sendiri.

APA tahun lalu memperingatkan pelanggaran atas peraturan dalam upaya untuk menganalisis para calon dalam pilpres sebagai sesuatu yang ‘tidak bertanggung jawab, berpotensi menghina, dan tentunya tidak etis.’

Narsistik kelas dunia?

Namun beberapa ahli sudah mengutarakan pendapatnya, termasuk mereka yang telah menandatangani petisi meminta pemberhentian Trump. Petisi tersebut kini sudah menghimpun lebih dari 23.000 tanda tangan.

Beberapa menduga Trump memiliki Gangguan Mental Narsistik (Narcissistic Personality Disorder).

Menurut Psikologi Today, orang-orang dengan kondisi ini sering kali menunjukkan beberapa karakteristik seperti berikut:
-.Bersifat muluk atau sombong, kurangnya rasa empati untuk orang lain dan membutuhkan kekaguman dari orang lain.

-.Mereka percaya dirinya superior atau berhak mendapat perlakuan khusus.

-.Penderita mencari kekaguman dan perhatian yang berlebihan, serta susah menerima kritik atau kekalahan.

Dalam surat untuk koran The New York Times, 35 ahli kesehatan mental memberi peringatan ‘ketidakstabilan emosi berat’ terlihat pada cara berbicara dan tindakan Trump, yang membuatnya ‘tidak mampu menjalankan jabatan sebagai presiden dengan aman’.

Mereka mengatakan para ahli tidak bersuara karena peraturan Goldwater, tapi kini saatnya untuk bersuara.

“Kebungkaman telah mengakibatkan kegagalan untuk meminjamkan keahlian kami kepada para jurnalis yang khawatir dan anggota Kongres pada saat kritis seperti ini. Kami khawatir terlalu banyak yang dipertaruhkan jika terus diam.”

Surat tersebut juga menambahkan, “Cara berbicara Trump dan tindakannya menunjukkan ketidakmampuan untuk menghargai pandangan yang berbeda dengannya, sehingga menyebabkan reaksi kemarahan. Kata-kata dan perilakunya menunjukkan ketidakmampuan yang mendalam untuk berempati.”

“Orang-orang dengan ciri-ciri tersebut memutarbalikkan kenyataan agar sesuai dengan kondisi psikologis mereka, menyerang fakta-fakta serta pihak yang menyampaikannya (wartawan, ilmuwan).”

Awal pekan ini, Senator Partai Demokrat, Al Franken, mengatakan ‘beberapa’ koleganya dari Partai Republik telah mengungkapkan kekhawatiran tentang kesehatan mental Trump. Kekhawatiran tersebut, ujarnya, timbul dari pertanyaan-pertanyaan tentang kejujuran Trump dan kecurigaan bahwa Trump ‘banyak berbohong’.

Selain melanggar peraturan Goldwater, para ahli lain mengatakan diagnosis kejiwaan Trump merupakan penghinaan terhadap penderita kesehatan mental.

Juga dalam sebuah surat kepada NYT, Dr Allen Frances, yang membantu menulis Buku Petunjuk Statistik dan Diagnostik Gangguan Mental IV -salah satu dari buku petunjuk utama yang digunakan untuk mengklasifikasikan gangguan mental- mengatakan ‘kebanyakan ahli diagnosis amatir telah salah memberi label’ Trump dengan diagnosis ‘gangguan mental narsistik’.

“Dia mungkin seorang yang narsistik kelas dunia, tapi bukan berarti membuatnya sakit jiwa, karena dia tidak menderita perasaan stres dan gangguan yang membutuhkan diagnosis gangguan mental.” (BBC)