Sunday, 28 May 2017

Ksatria dan Saleh

Sabtu, 18 Februari 2017 — 5:44 WIB
dullllli

Oleh S Saiful Rahim

“Alhamdulillah,” kata Dul Karung sambil meletakkan bokongnya, duduk di bagian kosong bangku panjang. Satu-satunya tempat duduk yang ada di warung kopi Mas Wargo, selain bangku khusus tempat duduk sang pemilik warung.

Sebelum mengucapkan tanda syukur kepada Allah Swt itu, Dul Karung sudah lebih dulu memberi salam kepada semua hadirin dengan ucapan assalamu alaykum yang fasih. Dan orang-orang yang hadir di warung itu hampir berbarengan menyambut salam tersebut.

“Aku benar-benar puas melihat sikap dan sifat Agus Harimurti Yudhoyono. Segera setelah hasil hitung cepat menunjukkan angka terkecil yang diperolehnya bersama Sylviana Murni, dengan legowo dan tanpa menuding ke kiri dan kanan, dia mengakui kekalahannya. Benar-benar dia menunjukkan sikap perwira dan sekaligus sifat ksatria,” sambung Dul Karung.

“Setuju!” sambut Mas Wargo yang biasanya jarang turut campur obrolan para langganannya.

“Sejak awal aku sudah melihat kesalehan Mas Agus,” timpal orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang.

“Maksud Anda?” tanya Dul Karung sambil mengunyah singkong goreng yang masih kebul-kebul.

“Menurut pandanganku, dan konon juga kata banyak orang, Mas Agus sebenarnya tidak berambisi untuk mencalonkan diri menjadi Gubernur DKI Jakarta, tapi kedua orangtua beliaulah yang menginginkan anaknya berebut posisi gubernur. Padahal karirnya di militer berkembang tanpa cela. Bahkan banyak petinggi ABRI yang yakin Agus Harimurti akan dengan mudah menapak tangga karir di ABRI hingga ke puncak. Sayang jalan emas itu ditinggalkan begitu saja,” jawab orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang tersebut.

“Oo kalau begitu Mas Agus adalah seorang anak yang saleh. Salah satu contoh anak saleh, kata almarhum guruku H Marzuki, adalah senantiasa mengabdi kepada orangtua, setelah kepada Allah dan Rasul-Nya. Bahasa agamanya disebut birrul walidain,” kata Dul Karung dengan suara yang rada jumawa.

“Ah, sok tahu lu Dul!” teriak seseorang yang entah siapa dan duduk di sebelah mana.

“Apa yang dikatakan Dul Karung itu betul. Birrul walidain adalah sikap dan sifat terpuji. Itu pula yang menjadi penyebab Mas Agus dapat secara ksatria dan perwira mengakui kekalahannya dalam Pilkada, walaupun belum ada keterangan resmi dari pihak penyelengara. Beliau tak akan berbuat macam-macam dan menuduh ke sana-sini karena kekalahan itu, seperti lazim dilakukan orang di negeri kita belakangan ini. Beliau tahu dan sadar betul lawan dalam Pilkada seperti lawan dalam pertandingan olahraga. Bukan musuh, tapi partner, atau pasangan. Tanpa lawan pertandingan olahraga tidak bisa dilangsungkan.

Sikap dan sifat seperti Mas Agus Yudhoyono itulah yang harus kita tiru dan amalkan pada Putaran II Pilkada DKI Jakarta yang akan datang,” kata orang yang duduk selang tiga di kanan Dul Karung.

“Assalamu alaykum! Aku permisi mau ke tempat lain untuk menyebarkan isi obrolan kita yang baik ini,” kata Dul Karung seraya melangkah pergi.

“Eh, tunggu dulu Dul. Apa yang kau makan dan minum bayar dulu dong, baru pergi,” teriak seseorang.

“Aku dididik untuk menyelesaikan tugas-tugas besar lebih dulu. Yang kecil belakangan pun gakpapa. Kalau ada keributan atau perkelahian soal utang piutang di warung ini, yang berkelahi paling dua orang, aku dengan Mas Wargo saja. Tetapi kalau ada keributan soal Pilkada Putaran II, yang ribut dan berkelahi bisa seluruh warga Jakarta. Jadi hasil obrolan kita ini harus segera disebarkan ke mana-mana,” jawab Dul Karung seenaknya. (syahsr@gmail.com )

Terbaru

Kapolresta Tangsel AKBP Fadli Widiyanto. (anton)
Minggu, 28/05/2017 — 17:17 WIB
Penganiayaan di Tangsel Bukan Dilakukan Gangster
jaya
Minggu, 28/05/2017 — 16:55 WIB
Gudang Toren Terbakar, Warga Khawatir
Halte Bus Trans di kawasan Harmoni, Jakarta Pusat.
Minggu, 28/05/2017 — 15:50 WIB
Transjakarta Terkendala Kios Sembako Murah di Halte