Friday, 20 October 2017

BANJIR JAKARTA

Kamis, 23 Februari 2017 — 5:59 WIB

Oleh Harmoko

UPAYA untuk mengatasi banjir di Jakarta dan sekitarnya sebenarnya telah dilakukan sejak berabad-abad silam. Tetapi, sampai hari ini upaya itu belum juga membuahkan hasil yang memuaskan.

Pada abad ke-5, sebagaimana tercatat pada Prasasti Tugu, dilakukan penggalian Sungai Candrabaga oleh Rajadirajaguru dan penggalian Sungai Gomati oleh Purnawarman. Penggalian kedua sungai tersebut merupakan gagasan untuk menghindari bencana alam berupa banjir dan kekeringan yang sering terjadi pada masa pemerintahan Purnawarman.

Catatan pada Prasasti Tugu itu berbentuk seloka, ditranskrip sbb:
“Pura rajadhirajena guruna pinabhahuna khata khyatam purin phrapya. Candrabhagarnavam yayau pravarddhamanadwavincadvatsa (re) crigunaujasa narendradhvajbhunena (bhuten).

“Crimata Purnnavarmmana prarabhya Phalgune(ne) mase khata krshnatashimithau Caitracukla-trayodcyam dinais siddhaikavinchakai(h). Ayata shatsahasrena dhanusha(m) sacaten ca dvavincena nadi ramya Gomati nirmalodaka pitamahasya rajarshervvidarya cibiravanim.Bhrahmanair ggo-sahasrena(na) prayati krtadakshino.”

Terjemahannya: “Dahulu atas perintah rajadiraja Paduka Yang Mulia Purnawarman, yang menonjol dalam kebahagiaan dan jasanya di atas para raja, pada tahun kedua puluh dua pemerintahannya yang gemilang, dilakukan penggalian di Sungai Candrabhaga setelah sungai itu melampaui ibukota yang masyhur dan sebelum masuk ke laut.

“Penggalian itu dimulai pada hari kedelapan bulan genap bulan Phalguna dan selesai pada hari ketiga belas bulan terang bulan Citra, selama dua puluh satu hari. Saluran baru dengan air jernih bernama Sungai Gomati, mengalir sepanjang 6.122 busur melampaui asrama pendeta raja yang dipepundi sebagai leluhur bersama para brahmana. Para pendeta itu diberi hadiah seribu ekor sapi.”

Simak dua kalimat terakhir! Ada kesadaran tentang lingkungan fisik sekaligus lingkungan transendental di situ. Kesadaran seperti ini sepertinya kian menipis—kalau tak bisa disebut telah hilang pada diri masyarakat kita dewasa ini.

Kesadaran fisik diterjemahkan berupa penanganan saluran pada Sungai Gomati sepanjang 6.122 busur. Kesadaran transendentalnya berupa pemberian hadiah seribu ekor sapi kepada para pendeta raja yang dipepundi sebagai rasa hormat kepada para leluhur.

Itu kesadaran transendental masa silam. Zaman terus berubah. Apa pun perubahannya, kesadaran transendental sejatinya adalah kesadaran adanya zat lain yang menguasai diri kita sebagai manusia.Sebagai makhluk ber-Tuhan, kita harusnya bisa memaknai bahwa banjir merupakan peringatan dari-Nya. Peringatan atas kesombongan kitakah? Bisa jadi.

Mungkin saja Tuhan menerima tantangan manusia yang cenderung pongah karena merasa mampu mengatasi hal-hal fisik. Barangkali Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita (pinjam syair lagu Ebiet). Padahal, kemampuan manusia tidak ada artinya di depan kuasan-Nya.

Kesadaran transendental—bahwa kita ini makhluk ber-Tuhan—semestinya selalu ada pada diri kita, kesadaran yang menjadikan kita selalu dekat dengan-Nya. Hindari sifat sombong, pongah, merasa paling bisa. Kalau Tuhan telah berkehendak, apa pun yang kita lakukan tidak ada artinya, bukan? ( * )