Thursday, 21 September 2017

Keamanan dan Keimanan

Sabtu, 25 Februari 2017 — 7:14 WIB
putih

Oleh S Saiful Rahim

SETELAH mengucap assalamu alaykum, tanpa berkata ba atau bu Dul Karung langsung duduk. Bahkan ketika orang yang duduk di sebelahnya menunjuk singkong goreng sambil berkata, “Singkongnya merangsang tuh,” Dul Karung bergeming. Diam dan bisu bagai arca di candi Borobudur. Ketika Mas Wargo meletakkan segelas teh manis yang beruap bagai kepundan gunung berapi, barulah Dul Karung buka mulut. Itu pun sekadar berkata, “Terima kasih.” Tak kurang dan tidak lebih.

“Ada apa dengan kau, Dul? Biasanya berisik seperti burung kutilang mau tidur, hari ini kok cep klakep kayak orong-orong kena pijak?” tanya Mas Wargo yang biasanya jarang ikut campur urusan atau obrolan pelanggannya.

“Saya galau dan sedih melihat saudara-saudara kita kebanjiran, Mas. Saya kira Jakarta sudah bisa dibebaskan dari banjir oleh Ahok bersama pasukannya, tapi hujan kok turun lebih banyak lagi dari biasanya. Nauzu billah minzalik,” kata Dul Karung dengan suara yang penuh nada ratap dan nelangsa.

“Ahok dilaknat Allah tuh,” kata seseorang entah siapa dan duduk di sebelah mana.

“Hoi, jangan ngomong sembarangan. Allah itu sifat-Nya Maha Pengasih dan Maha Penyayang, bukan tukang marah-marah. Kan di dalam literatur tasawuf ada kisah yang menuturkan seorang pelacur dimasukkan ke surga hanya karena memberi minum anjing yang kehausan. Dan di dalam Al-Quran disebutkan bahwa kasih sayang Allah Swt mendahului atau melampaui murka-Nya,” sergah orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang, satu-satunya bangku yang ada di warung itu, dengan suara lantang.

“Betul itu! Dan kalau tidak salah, ada hadis yang menyatakan bahwa Allah Swt tidak melaknat suatu kaum bila di tengah kaum itu masih ada orang alimnya. Di tengah masyarakat Jakarta sekarang ini bukan sekadar masih ada, tapi masih banyak sekali orang yang alim,” timpal orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang.

“Sebenarnya apa sih yang membuat kau galau dan murung sehingga melihat singkong goreng yang kebul-kebul pun kau menjadi cuek saja. Padahal biasanya kau menjadi liar bagai elang melihat anak ayam terpisah dari induknya, langsung main sambar saja,” tanya orang yang duduk tepat di kiri Dul Karung. Dia adalah orang yang bergeser memberikan tempat duduk ketika Dul Karung memasuki warung.

“Terus terang, bukan cuma mata kepalaku, tapi dan terutama mata hatiku, menangis melihat banjir kali ini begitu hebat melanda Jakarta. Banyak warga kota turun dan turut membantu, termasuk dan terutama mereka yang berseragam oranye. Tapi aku tak melihat mereka yang berseragam putih yang sebelumnya berulang kali turun ke jalan. Mungkin hatiku akan lebih terharu bila melihat mereka pun turun ke tengah banjir membantu saudara-saudaranya yang sedang berduka dan, pasti, kelaparan di tengah banjir hebat itu. Aku bukan ahli agama, bahkan mengaji “Juz Amma” pun aku tidak tamat, tetapi aku pernah mendengar orang berkata ada hadis yang berbunyi,
“Seseorang belumlah disebut beriman bila dia bisa makan kenyang sementara tetangganya kelaparan.” Dan hadis lain menyatakan, “Seseorang belumlah beriman bila tetangganya merasa tidak aman dari gangguannya.” Kata Dul Karung sambil meninggalkan warung, sehingga dia tidak mendengar ada yang mengatakan pasukan putih-putih pun turun membantu ke tengah banjir. Tapi mereka tidak berseragam, kan pakaian putih cepat kotor. Lagi pula bantuan yang lebih utama adalah yang diberikan oleh tangan kanan tanpa setahu tangan kiri.” ( syahsr@gmail.com )