Wednesday, 25 April 2018

9,1 Juta Penduduk Indonesia Menderita Diabetes

Senin, 27 Februari 2017 — 7:12 WIB
Suasana seminar soal diabetes

Suasana seminar soal diabetes

MEDAN (Pos Kota)- Lonceng darurat diabetes semakin mengkhawatirkan. Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan data teranyar yakni jumlah penderita Diabetes Mellitus (DM) saat ini naik menjadi 422 juta jiwa.

Khusus di Indonesia, berdasaran Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan RI, terakhir tahun 2013 sudah mencapai angka 9,1 juta jiwa. Dan jumlah ini terus bertambah, diprediksi pada tahun 2030 akan mencapai 21,3 juta jiwa.

“Hasil penelitian ini mengindikasikan saat ini 1 dari 10 orang warga mengidap Diabetes Mellitus,” kata Staf Divisi Endokrin Metabolik RSUP H Adam Malik, dr Santi Syafril, SpPDKEMD, FINASIM, dalam seminar kesehatan “Perananan Complementary and Alternative Medicine Dalam Manajemen Pengobatan Diabetes Mellitus Tipe 2” di Hotel Adi Mulia, Medan.

Dengan jumlah tersebut, posisi Indonesia menurut dr Santi saat ini berada di urutan ke 7 negara dengan jumlah penduduk tertinggi mengidap DM di dunia. Ironisnya lagi menurutnya, 90 % pasen kencing manis terdiagnosa DM tipe 2. Dan dari jumlah tersebut sebagian besar tidak menyadari jika mereka mengidap DM.

“Ketidaktahuan ini yang berisiko membuat komplikasi,” ujarnya.

Sementara itu tingginya jumlah penderita DM di Indonesia membuat secara ekonomis biaya yang dikeluarkan untuk pengobatan juga sangat tinggi.

Direktur Utama PT HArvest Gorontalo Indonesia, M Yamin Lahay mengungkapan pihaknya mencatat total ongkos ekonomi yang harus ditanggung pemerintah sejak 2006 hingga 2015 lalu mencapai Rp 800 triliun.

“Data dari Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) juga mencatat pasien DM enguasai 30 % klaim atau sekitar Rp 20 triliun,”katanya.

Data JKN juga mencatat pasien DM menguasai 30 persen dari seluruh klaim atau mencapai Rp.20 Triliun pada tahun 2016,” katanya.

“Jadi, ada jenis obat yang dapat digunakan untuk DM tipe 2, yaitu, untuk mengendalikan kadar gula darah, juga mencakup terapi non obat dan terapi obat,” ujarnya.

Ditambahkannya, disisi lain penggunaan obat herbal sebagai alternatif penyembuhan penyakit semakin meningkat di Indonesia, sebab menurut pendapat masyarakat obat herbal tidak mempunyai efek samping. (samosir)