Thursday, 19 September 2019

Ini Alasan Ahok Diam Saat Rizieq jadi Saksi

Selasa, 28 Februari 2017 — 23:41 WIB
Fifi Lety Indra saat mendampingi kakaknya, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), dalam sidang yang digelar PN JAkarta Utara.

Fifi Lety Indra saat mendampingi kakaknya, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), dalam sidang yang digelar PN JAkarta Utara.

JAKARTA (Pos Kota) – Dalam sidang dugaan penodaan agama, dengan saksi ahli pimpinan Front Pembela Islam (FPI) Muhammad Rizieq Shihab, terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok terlihat lebih banyak diam. Pejabat Gubernur DKI Jakarta itu lantas mengungkapkan alasannya.

“Memang terdakwa itu gak ditanya, dari (ketika dalam sidang dihadirkan) ahli agama, ahli apapun,” katanya, sebelum pulang dari kantornya, di Balaikota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Gambir, Jakarta Pusat, Selasa (28/2/2017) malam.

Mantan Bupati Belitung Timur itu menambahkan, keadaannya akan berbeda ketika saksi yang dimintai keterangan adalah bukan ahli. Sebab, kehadiran ahli sejatinya dibutuhkan hanya untuk dimintai pendapatnya bukan sebagai saksi namun sebagai orang yang menguasai masalah terkait perkara yang disidangkan.

“Jadi beda dengan saksi fakta atau saksi yang terlapor, itu hakim akan tanya, ‘terdakwa mau sampaikan apa gak?’, jadi kalau itu (yang dihadirkan ahli) enggak,” imbuhnya.

Dalam sidang di Auditorium Kementerian Pertanian, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa pagi hingga siang Rizieq Shihab dihadirkan sebagai ahli agama. Ahok dan Rizieq pun baru pertama kali bertemu secara langsung.

Disinggung soal itu, Ahok mengaku tidak punya kesan khusus. Padahal, sebagaimana diketahui, Rizieq kerap menentang Ahok.

“Ya, biasa saja sih ya,” pungkas Ahok.

Rizieq sendiri merupakan ahli atau saksi terakhir yang dihadirkan oleh jaksa penuntut umum. Sidang selanjutnya giliran kesempatan Ahok dan tim pengacaranya untuk menghadirkan saksi meringankan.

Ahok dijadikan terdakwa dalam perkara dugaan penodaan agama setalah menyebut surat Al Maidah ayat 51 saat bertatap muka dengan warga Kepulauan Seribu, 27 September 2016. Dia didakwa dengan Pasal 156 KUHP yang ancaman hukumannya paling lama 4 tahun penjara dan Pasal 156 a KUHP yang ancaman hukumannya paling lama 5 tahun penjara. (julian)