Sunday, 25 June 2017

SEPAKBOLA

Kamis, 2 Maret 2017 — 6:20 WIB

Oleh Harmoko

LEBIH dari persoalan olahraga, sepakbola juga berdimensi, sosial, politik, budaya, dan ekonomi. Iya, di banyak negara, sepakbola telah melahirkan banyak kisah tentang pengabdian, pengorbanan, perjuangan, bahkan kepahlawan. Bagaimana di Indonesia?

Seperti di banyak negara lain, sepakbola di Indonesia sebenarnya juga telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, meski tidak seekstrem di Amerika Latin. Di Amerika Latin, batasan antara sepakbola dan politik tidaklah jelas. Ada daftar panjang pemerintah dihujat habis-habisan atau bahkan digulingkan setelah tim nasionalnya kalah.

Rasanya tidak ada olahraga yang bisa menggerakkan begitu banyak hal melebihi sepakbola. Sepakbola menjadi begitu kompleks. Selain olahraga, sepakbola adalah perekat sosial. Sepakbola adalah identitas. Sepakbola adalah bisnis. Sepakbola adalah budaya. Sepakbola adalah harga diri. Sepakbola adalah sportivitas. Sepakbola adalah gairah. Sayangnya, bangsa ini belum bisa berbicara banyak tentang prestasi sepakbola.

Pernah, memang, kita begitu bangga ketika era 1950-an tim sepakbola kita
lolos ke perempat final Olimpiade di Melbourne. Ada nama-nama sampai melegenda seperti Ramang, Maulwi Saelan, Kwee Kiat Sek, Thio Him Tjiang, dan sebagainya yang mampu menahan seri (0-0) melawan Uni Soviet, sebelum akhirnya kalah 0-4 dalam laga ulang.

Hingga awal 1970-an, prestasi sepakbola Indonesia relatif masih cukup disegani oleh negara-negara lain. Setelah itu, prestasi kita terseok-seok, hingga kemudian ada harapan lagi ketika timnas kita menunjukkan tajinya pada SEA Games 1987 dan 1992 mampu meraih medali emas. Tetapi, sejak itu, berbagai upaya untuk menggenjot prestasi sepakbola kita tak juga membuahkan hasil.

Kita masih ingat, PSSI pernah mencanangkan agar timnas kita bisa lolos pada kualifikasi Olimpiade 1992 di Barcelona. Untuk itu, didatangkanlah pelatih asal Cekoslowakia, Josef Masopust, namun upaya ini juga gagal.

Belum menyerah, PSSI mencoba terobosan baru, menjalankan program pelatnas jangka panjang melalui program PSSI Primavera tahun 1993—1994, dengan mengirim pemain berlatih ke Italia. Targetnya juga untuk bisa lolos ke babak kualifikasi Olimpiade 1996, tetapi lagi-lagi tidak membuahkan hasil maksimal.

Tidak kehabisan akal, terobosan lain ditempuh, yaitu membuka program naturalisasi pemain asing. Program ini memberi harapan bagus ketika pada Piala AFF 2010 timnas sepakbola kita mampu menembus final, tetapi harus puas pada posisi kedua setelah ditaklukkan oleh Malaysia di final.

Program naturalisasi pemain diteruskan, begitu juga dengan mendatangkan pelatih asing. Kompetisi antarklub di dalam negeri terus digalakkan. Sambutan dari masyarakat luar biasa. Kita lupakan konflik kepengurusan—juga konflik Kemenpora dengan PSSI—yang menorehkan catatan kelam dalam persepakbolaan nasional, kita berharap sepakbola Indonesia mampu menunjukkan kelasnya di tingkat dunia, minimal tingkat regional. Mudah-mudahan. ( * )