Wednesday, 29 March 2017

Yang Bodoh dan Yang Miskin

Sabtu, 4 Maret 2017 — 6:40 WIB
warung

Oleh S Saiful Rahim

“BENAR juga apa yang sering dikatakan almarhumah nenekku dulu,” kata Dul Karung sambil melangkah masuk ke warung kopi Mas Wargo setelah mengucapkan assalamu alaykum dengan fasih.

Lalu, seperti biasa, dia melemparkan pantatnya pada bagian yang kosong dari satu-satunya bangku panjang yang ada di warung itu. Dan juga seperti biasa, tangannya mencomot singkong goreng yang masih kebul-kebul, serta mencaploknya begitu saja.

“Apa yang sering dikatakan almarhumah nenekmu itu Dul?” tanya orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang.

“Orang yang bersekolah itu bodoh, dan orang yang bekerja itu miskin,” jawab Dul Karung sambil mengunyah singkong goreng dengan bibir yang dimonyong-monyongkan karena kepanasan.

“Ah, nenekmu itu ngaco, Dul!” sambar seseorang yang entah siapa dan duduk di sebelah mana.

“Lihat saja anggota DPR yang terhormat itu!” tangkis Dul Karung dengan suara yakin dan mencoba meyakinkan.

“Gila kau Dul! Anggota DPR kau anggap bodoh!” hardik orang duduk yang di ujung kanan bangku panjang.

“Buktinya setiap kali akan membuat suatu peraturan hampir selalu mereka melakukan studi banding ke luar negeri. Studi banding itu kan setali tiga uang dengan belajar atau malah nyontek,” kata Dul Karung dengan suara lantang, dan mendapat tepukan tangan riuh dari beberapa hadirin.

“Para anggota DPR itu kan tidak mungkin belum pernah sekolah? Malah kebanyakan beliau-beliau itu sarjana. Bahkan ada yang bergelar profesor doktor,” sambung Dul Karung dengan sikap pongah.

“Dul, studi banding itu lain dengan belajar. Kalau belajar kan kita berguru, mempelajari yang kita belum tahu. Kalau studi banding itu membandingkan apa yang telah kita bikin, atau setidak-tidaknya yang sudah ada konsep atau rancangannya di benak kita, lalu kita perbandingkan dengan yang orang lain bikin.

Nah, hasil dari memperbandingkan itu, apa-apa yang lebih baik diperbuat orang lain bisa kita tiru. Kalau hasil yang kita perbuat lebih baik, kita patut mensyukurinya,” kata orang yang tampaknya seperti dosen, yang duduk selang tiga di kanan Dul Karung.

“Oooo begitu? Kalau demikian adanya, berarti anggota DPR kita masih mengidap penyakit kurang percaya diri dong?” sambar Dul Karung yang rupanya menyimpan sikap oposan sejati.

“Wah, kalau kau bicara seperti itu di zaman Orba kau bisa dicap subversif. Kalau di zaman Orla dicap reaksioner dan anti revolusi,” kata orang yang duduk tepat di depan Mas Wargo.

“Sudah sudah! Cukup! Bikin kepalaku pusing saja,” bentak orang yang duduk di samping kanan Dul Karung, mengundang tawa para hadirin.

“Lalu mengapa nenekmu bilang orang yang bekerja itu tanda miskin?” tanya orang yang memakai surjan sambil mengunyah tempe goreng.

“Gitu aja ditanya. Kalau dia kaya raya ya ngapain kerja,” jawab Dul Karung seperti asal menjawab saja.

“Ooo pantas yang bekerja itu pada rajin korupsi. Makin tinggi jabatannya, tambah gede korupsinya. Jadi, korupsi itu tujuan kerja sekarang ini ya?” serobot orang yang duduk di sebelah kanan lelaki bersurjan.

“Itu kata kau, ya! Bukan kataku, apalagi kata almarhumah nenekku,” ujar Dul Karung sambil ngeloyor begitu saja meninggalkan warung kopi Mas Wargo. ( syahsr@gmail.com )