Saturday, 20 July 2019

Yang Kaya Semakin Kaya Yang Miskin Semakin Miskin

Sabtu, 4 Maret 2017 — 7:10 WIB
terlalu

RAJA DANGDUT Rhoma Irama memang seniman musik yang visioner. Dia menciptakan lagu yang menembus zaman. Setelah sukses dengan lagu lagu cinta yang romantis, bersama Elvie Sukaesih, Bang Haji juga melahirkan lagu lagu religius dan kritik sosial yang sangat mengena. Dalam satu lagunya, berjudul ‘Takwa’, pentolan OM Soneta itu berdendang. “Yang miskin jangan bersedih/dan jangan sesali diri / yang kaya janganlah bangga / jangan membusungkan dada

Di jalanan, lirik lagu itu biasa diplesetkan : “…yang miskin semakin miskin… yang kaya semakin kaya..”

Lagu yang populer di tahun 1970-an itu, masih aktual sampai sekarang. Kita sama sama tahu, di balik sukses pembangunan ekonomi dan stabilitas politik, dengan pertumbuhan 4-5 % per tahun, muncul masalah lain dari pembangunan kita: kesenjangan ekonomi dan sosial.

Ramai jadi perbincangan beberapa hari lalu, ketika The Guardian (23/2) memberitakan, kekayaan empat (4) orang terkaya di Indonesia itu setara dengan kekayaan 100 juta orang miskin di Indonesia. Sudah masuk dalam kategori yang mengkhawatirkan.

Mereka yang banyak menikmati pertumbuhan ekonomi selama ini tidaklah semua orang, melainkan terkonsentrasi pada orang tertentu dan berada di wilayah tertentu pula. Dan itu sudah ada sejak zaman dulu kala.

Pada zaman otoriter, di maza Soeharto berkuasa, mereka yang dekat dengan kekuasaan mendapat keistimewaan (previlage), sehingga semua kemudahan bisnis didapat dan menimbun kekayaan mereka. Konsesi pengelolaan hutan dan kekayaan alam dan pasar, jatuh ke segelintir pengusaha yang berbagi keuntungan para penguasa. Rakyat tetap miskin.

Keadaan tak berubah di zaman reformasi. Para investor dan pemodal berjaya, mendapatkan konsesi untuk mengelola proyek agar politisi dapat jabatan. Ribuan hektar hutan dan lahan pertanian jatuh ke tangan pengusaha lokal dan asing.

Ekonomi Indonesia survive, tumbuh di atas rata-rata ekonomi dunia. Indonesia bahkan juga masuk sebagai bagian dari 20 kekuatan ekonomi besar dunia.

Kini tugas pemimpin kita melakukan pemerataan. Agar jurang di antara kota dan desa, Jawa dan luar Jawa, wilayah padat penduduk dan terpencil tak terlalu jauh.

Memang menjadi miskin harus takwa, dan yang kaya jangan cuma bangga. Tapi berbagi. Dan penguasa intervensi agar ada pemerataan. – dimas