Sunday, 23 September 2018

Nasihat dari Kamar Rumah Sakit

Senin, 6 Maret 2017 — 6:05 WIB
sakit

”YA ALLAH sakit banget, apa dosa saya, apa salah saya, kok diaksih sakit biegini, Ya, Allah gimana ini?” teriak seorang pasien lelaki.

“Sabar Pak,” itu suara sang istri, pelan sambil mengelus tubuh sakit sang suami.
Tapi sang suami masih ngeromet. Ngomel terus. Bukan sekadar ngomel, malah mencoba mencabut infus.

Dia adalah bukan satu-satunya pasien yang ngomel. Ada pasien lain yang juga berulah senada,” Sakit, Ya Allah, Dokter, ane udah nggak sanggup dok! Tolong dokter, kenapa masih sakit? Kasih obat nggak sih? Kok masih sakit? Suster, mana dokternya, kok belum datang juga, gue bisa mati nih, nggak sanggup dikasih penyakit kayak gini, ya Allah, berat banget nih penyakit! “ protesnya.

Ada juga yang kelojotan setengah mengamuk, kayak orang gila yang dipasung, berontak mau kabur dari tempat tidur. ada yang oegang kepalnya, perutn, kaki dan anggota badan lainnya. Belum lagi, perban yang ada di tubuh mereka masih merah karena bercak darah. Dan terikan; sakiiitttt!

Masih di ruang yang sama, wanita setengah baya terus menghibur sang suami. “ Bahwa ketika kita sakit, Allah tarik tiga perkara; pertama Allah tarik keceriaan wajah kita, kedua Allah tarik selera makan kita, ketiga Allah tarik dosa kita.

Namun, ketika kita sembuh Allah hantar dua perkara saja. Pertama Allah hantar balik keceriaan kita, kedua Allah hantar balik selera makan kita. Tapi, Allah tak hantar balik dosa kita.”

Apakah sang suami yang mengeluh, memaki, ngeromet, mendengar nasihat sang istri? Tidak jelas! Tapi yang jelas dia kemudian diam dan ngorok sepanjang hari di tempat tidur, di ruangan kelas sekian satu rumah sakit yang penuh sesak dengan pasien. Pasien warga kelas bawah yang untuk masuk rumah sakit harus mengantri berhari-hari. –massoes