Saturday, 25 March 2017

RAJA SALMAN DAN JALUR SUTRA

Senin, 6 Maret 2017 — 5:37 WIB

 

Oleh Harmoko

BANYAK pengamat menyoroti kunjungan Raja Salman ke Indonesia hanya dalam konteks kepentingan bilateral kedua negara. Utamanya dari sisi ekonomi, selain aspek seremonial yang gegap gempita. Bagaimana dari sisi geopolitik?

Ingat, selain ke Indonesia, Raja Salman juga berkunjung ke beberapa negara lain: Malaysia, Brunei Darussalam, Maladewa, Jepang, dan terakhir Cina. Cermati, negara-negara berada pada lintasan Jalur Sutra.

Jalur Sutra adalah jalur perdagangaan yang melintasi Asia, menghubungkan negara-negara Timur dan Barat. Istilah ini pertama kali digunakan oleh geografer Jerman, Ferdinand von Richthofen, pada abad ke-19, karena komoditas perdagangan yang melintasi kawasan tersebut kala itu didominasi sutra dari Cina.

Kawasan tersebut, sebagaimana dikemukakan oleh pakar geopolitik dari Inggris, Sir Harold Mackinder (1847-1947), merupakan kawasan jantung dunia. Barang siapa mengendalikan kawasan ini maka sama artinya telah menguasai dunia.

Dalam kajian Mackinder, kawasan tersebut terbagi ke dalam empat kawasan. Pertama adalah Heartland atau World Island, mencakup Asia Tengah dan Timur Tengah. Kedua adalah Marginal Lands yaitu Eropa Barat, Asia Selatan, Asia Tenggara (sebagian) dan sebagian daratan Cina. Ketiga disebut Desert meliputi Afrika Utara. Sedang kawasan keempat dinamai Island or Outer Continents yang meliputi Benua Amerika, Afrika Selatan, Asia Tenggara (sebagian), dan Australia.

Secara geopolitik, sebagai negara Timur Tengah—yang pasca-Perang Dunia Pertama berada dalam orbit pengaruh Inggris—Saudi Arabia sadar betul bahwa Jepang-Cina-Indonesia merupakan mata rantai penting dalam lintasan Jalur Sutra. Kesadaran geopolitik inilah yang membuat Raja Salman merasa perlu membangun kerja sama strategis dan terintegrasi dengan Malaysia, Indonesia, Brunei Darussalam, Maladewa, Jepang, dan Cina.

Di pihak lain, untuk mengawal lintasan Jalur Sutra itu pula, Cina telah terlebih dulu menjalin kerja sama dengan Rusia, tahun 2001, dalam Shanghai Cooperation Organization (SCO). Baik Cina maupun Rusia punya kepentingan agar kawasan ini tidak dikuasai oleh Amerika Serikat dan Blok Eropa Barat. Dari sini, jelas bahwa Cina merupakan mata rantai dan bahkan sektor hulu Jalur Sutra.

Dari sisi itu pulalah kita harus melihat kunjungan Raja Salman ke Indonesia kali ini. Betapa Raja Salman menyadari betul bahwa negara-negara pada lintasan Jalur Sutra memiliki sumber daya alam dan komoditas dagang yang sangat beragam dan strategis: minyak, emas, rempah-rempah, besi, gading, kayu, dan sebagainya.

Oleh karena itu, kita jangan larut dalam euforia atas kedatangan Raja Salman yang siap menggelontorkan dana investasi US$25 miliar. Nota kesepakatan itu telah ditandatangani. Di balik itu sebenarnya ada “pekerjaan rumah” yang sangat besar: bagaimana agar kesepakatan itu bisa ditindaklanjuti secara operasional demi kebangkitan ekonomi Indonesia. Sehingga, kita jangan sampai hanya sebagai penonton di tengah pertarungan negara-negara lain dalam upaya memperebutkan potensi ekonomi di kawasan Jalur Sutra. Insyaallah. ( * )