Saturday, 25 March 2017

BUDAYA LOKAL DI TELEVISI

Kamis, 9 Maret 2017 — 6:38 WIB

Oleh Harmoko

KETIKA Indonesia meluncurkan Satelit Palapa A1 tahun 1976, sejak itulah kita menyadari mulai memasuki era global. Disusul peluncuran satelit-satelit berikutnya, sejak itulah siaran televisi bisa menembus ke berbagai pelosok Nusantara.

Satelit itu didesain dan dibangun secara khusus hingga mampu mengonsentrasikan kekuatan sinyalnya di seluruh wilayah kepulauan Indonesia plus negara-negara tetangga seperti Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand.
`
Sebagai bagian dari masyarakat global, kita tidak tertutup dari pengaruh budaya dan nilai-nilai asing. Namun, sebagai bangsa yang memiliki identitas, kita tetap harus waspada untuk tidak terbawa arus global. Boleh ngeli (ikut arus), tapi jangan sampai keli (terbawa arus).

Era tekonologi telah memberi banyak manfaat bagi kita. Terserah bagi kita, apakah perkembangan teknologi pada era global ini mau kita manfaatkan untuk kepentingan positif atau negatif. Banyak hal bisa kita lakukan untuk tujuan positif. Pernah, misalnya, kita memiliki program tayangan bersama dengan televisi Malaysia, untuk memperkenalkan budaya kedua negara lewat program Titian Muhibah.

Ide itu dulu berawal dari kedatangan Menteri Penerangan Malaysia—waktu itu—Datuk Rahmat ke Jakarta. Buat saya pribadi, Datuk Rahmat memang kawan lama. Sebelum menjadi menteri, beliau pernah menjadi Dubes Malaysia di Indonesia dan pernah berkuliah di Universitas Indonesia.

Datuk Rahmat ini keturunan Tegal, Jawa Tengah. Kalau berbicara dengan saya, Datuk Rahmat lebih suka menggunakan bahasa Jawa. Beliau suka menyanyi, hapal betul syair lagu Yen Ing Tawang Ana Lintang dan Rindu. Nah, dari pertemuan dan obrolan itulah, Datuk Rahmat melihat pentingnya membina hubungan persahabatan antara Indonesia dan Malaysia di bidang kebudayaan. Saya sependapat.

Kerja sama dimulai dengan siaran berbalas pantun melalui RRI Pusat Jakarta dan Radio Pusat Kuala Lumpur, sebelum akhirnya berkembang memelalui beberapa stasiun radio di daerah. Sukses di radio, siaran dikembangkan di televisi, mulai 1985, lewat program Titian Muhibah. Acara ini disiarkan langsung oleh TVRI Pusat dan Televisi Malaysia seyiap tiga bulan sekali.

Nama program Titian Muhibah saya ambil dari judul film Titian Serambut Dibelah Tujuh. Titian berarti jembatan, menarik untuk memaknai hubungan harmonis antardua negara. Lewat tayangan ini, saya ingin memberi isi semangat Deklarasi ASEAN yang ditandatangani tahun 1967.

Tayangan seperti ini idenya tak hanya dikerjasamakan dengan Malaysia tetapi juga dengan dengan negara-negara lain. Bagi Indonesia, ini medium untuk memperkenalkan seni budaya kita ke mancanegara. Kalau saja semua stasiun televisi bisa melakukan hal itu, bayangkan, tayangan televisi akan semakin indah dalam balutan budaya Indonesia di tengah gempuran budaya global.
Apa yang terjadi dewasa ini? Tayangan televisi, semenarik apa pun, lebih didominasi warna kebarat-baratan. Kita tidak membenci budaya Barat, tentu saja, tetapi kalau kita meninggalkan budaya kita sendiri, ibarat pohon kita bisa kehilangan akar. Apa jadinya kalau pohon kehilangan akar?

Budaya kita adalah kepribadian kita. Itulah akar kebangsaan kita. Pada era global, kita tidak bisa kalis dari pengaruh budaya asing. Masalahnya, bagaimana agar kita tidak tercerabut dari akar budaya kita sendiri? Semoga bisa kita jadikan renungan. ( * )