Sunday, 19 November 2017

KTP yang Terkena Najis

Sabtu, 11 Maret 2017 — 6:20 WIB
ahok

Oleh S Saiful Rahim

SEGERA setelah masuk ke warung kopi Mas Wargo, Dul Karung melempar pantatnya ke bagian yang kosong pada bangku panjang yang ada di sana. Lalu dia menarik nafas berat, dan memesan teh kental manis. Orang-orang yang semula berisik pun serentak terdiam melihat perilaku Dul Karung yang tidak seperti biasa.

“Ada apa Dul? Tampangmu kok kusut kayak benang diacak-acak kucing,” sapa orang yang duduk di sisi kanan, yang sebelumnya bergeser memberi tempat Dul Karung duduk.

“Bingung aku melihat tingkah laku anggota DPR yang konon katanya wakil rakyat itu?” jawab Dul Karung sambil menerima gelas berisi teh pesanannya yang masih kebul-kebul.

“Sudah berulang kali lembaga survey baik dalam maupun luar negeri menyatakan DPR sebagai sarang koruptor, eh para anggota Dewan yang terhormat itu bukan membantah tudingan tersebut, tapi justru menambahkan bukti-bukti kebenaran tuduhan yang sangat memalukan itu,” sambung Dul Karung dengan suara yang berapi-api.

“Ah, kau jangan membakar hati dan dirimu dengan emosi yang berkobar-kobar seperti itu, Dul. Marilah kita lihat masalah ini dari segi positifnya?” potong orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang dengan tenang.

“Korupsi kok ada segi positifnya! Sama gilanya kau dengan oknum-oknum yang sekarang menduduki lembaga terhormat Dewan Perwakilan Rakyat itu,” bentak Dul Karung dengan suara yang tingginya hampir mencapai langit.

“Lho kau kok tambah emosional. Korupsi, atau aksi kejahatan apa pun kalau masih bisa ketahui orang, itu tandanya belum hebat. Belum luar biasa. Kalau hanya Tuhan dan malaikat saja yang dapat mengetahuinya, itu baru istimewa. Aksi-aksi jorok yang dilakukan oleh para anggota dan bahkan pimpinan Dewan yang terhormat itu, sekarang kan masih bisa diketahui orang banyak. Termasuk bisa diketahui oleh masyarakat peminum kopi kaki lima seperti kita. Itu kan berarti segala perilaku jelek seperti papa minta saham, sampai melipat duit KTP elektronik, masih kampungan. Buktinya masih bisa ketahui orang banyak. Mungkin itu pula sebabnya para anggota DPR rajin melakukan studi banding ke luar negeri. Mereka ingin belajar bagaimana caranya menyeleweng, mencuri uang negara atau uang rakyat, tanpa bisa diketahui siapa pun. Kalau mungkin sampai Tuhan dan malaikat pun tidak tahu,” kata orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang lagi.

Beberapa hadirin di warung kopi tertawa, dan beberapa yang lainnya hanya terbatas pada tersenyum saja.

“Astaghfirullah. Apa iya kalangan elite seperti anggota DPR sampai berhati sebusuk itu?” protes orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang dengan suara masgul.

“Pepatah nenek moyang kita kan mengatakan ‘Dalam laut dapat di ukur, dalam hati siapa tahu.’ Buktinya tidak sedikit anggota yang ditunjuk, atau mewakili, partai berbasis agama terlibat dalam aksi korupsi dan sebagainya itu,” jawab orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang.

“Iya ya. Uang biaya KTP yang demi kepentingan rakyat pun disikat hampir separonya. Padahal nilainya triliunan rupiah,” gumam orang yang duduk selang tiga di kanan Dul Karung.

“Untung KTP-ku yang baru belum selesai, jadi aku tidak ikut mengantongi KTP yang sudah kena najis. Nanti kalau KTP baruku jadi akan aku laminating tujuh lapis, supaya najisnya tidak mengenai tangan siapa saja yang memegangnya,” kata Dul Karung seraya pergi meninggalkan warung Mas Wargo begitu saja. (syahrh@gmail.com )