Saturday, 22 July 2017

Di Era Online, Anak Perlu Pendidikan Mengelola Uang

Senin, 13 Maret 2017 — 12:07 WIB
Peluncuran aplikasi punyacelengan untuk keluarga Indonesia. (ist)

Peluncuran aplikasi punyacelengan untuk keluarga Indonesia. (ist)

JAKARTA (Pos Kota) – Tanggung jawab utama mendidik anak untuk memahami arti nilai uang sesungguhnya ada pada orang tua. Di era online dan bermunculan aplikasi saat ini, anak perlu mendapat pendidikan tersendiri secara benar.

Hal itu disampaikan praktisi masalah keuangan online, Benny Helman di Jakarta, Senin (13/3/2017). Masalahnya,  banyak orang tua menghindar melakukan pendidikan terkait nilai uang dengan berbagai alasan seperti tidak ada waktu, tidak memandang itu hal penting hingga membiarkan anak paham dengan sendirinya kelak jika sudah bekerja.

Padahal anak harus dilatih memahami nilai uang sejak dini. Tujuannya selain supaya anak lebih menghargai uang, juga agar anak tahu bahwa untuk mendapatkan uang itu tidak mudah. Uang tidak jatuh dari langit, membutuhkan perjuangan untuk mendapatkannya. Sehingga ketika hendak membelanjakannya kita harus bijaksana dan memiliki pertimbangan.

“Memahami nilai uang selama ini menjadi monopoli orangtua. Saat anak meminta sesuatu, orang tua hanya memberikan pilihan dikabulkan atau ditolak, tetapi tidak menyertakan alasan atas keputusan tersebut,” kata Benny Helman yang juga  Direktur MNC Bank.

Karena itu, dalam upaya membantu orang tua memberikan pemahaman kepada anak mengenai nilai uang, MNC Bank meluncurkan produk punyacelengan. Ini adalah sejenis aplikasi berbasis mobile yang bisa digunakan oleh orang tua untuk membantu anaknya memahami tentang nilai uang. Aplikasi dirancang dalam bentuk game sehingga anak akan mudah mempelajarinya sekaligus menyukainya.Pun tampilannya, fitur ini penuh animasi yang unik, dengan gambar yang menyegarkan.

Menurut Benny, punyacelengan dapat digunakan orang tua untuk membantu anak memahami hubungan antara tiga  hal utama dalam konsep keuangan yakni “Earning”, “Saving”, dan “Spending”.  Tiga hal tersebut merupakan rangkaian kegiatan yang bisa dilakukan seorang anak dalam hubungannya dengan pemanfaatan uang.

“Saat seorang anak ingin mendapatkan uang atau earning, orang tua bisa membuat daftar tugas yang harus dikerjakan oleh si anak. Tugas tersebut jika dikerjakan akan menghasilkan hadiah berupa coin yang bisa dikumpulkan anak,” kata Benny.

Langkah berikutnya ketika tugas sudah selesai dikerjakan, anak akan mendapatkan coin yang bisa dikumpulkan atau ditabung. Inilah konsep saving sesungguhnya yang diajarkan melalui punyacelengan.

Jika coin yang dikumpulkan sudah memenuhi jumlah yang disyaratkan untuk mendapatkan suatu barang, maka langkah selanjutnya adalah orang tua harus merealisasikan keinginan atau permintaan anak yang tertera pada earning. Langkah terakhir ini disebut sebagai spending atau membelanjakan. Artinya mengabulkan permintaan anak setelah anak melalui tahapan persyaratan yang diberikan.

Libatkan semua keluarga

Bagi Benny, punyacelengan tak sekedar  bagaimana mewujudkan keinginan anak melalui proses perjuangan. Ini adalah sekaligus mengajarkan bagaimana anak dilatih membuat keputusan terkait keuangan,  belajar untuk menentukan prioritas, dan membangun komunikasi yang lebih erat di dalam keluarga.

“Karenanya fitur yang kami bangun harus melibatkan seluruh anggota keluarga. Anak dan orangtua terlibat dalam komunikasi menyenangkan saat memutuskan untuk membeli sesuatu. Anak dilatih membuat skala prioritas dalam menggunakan uang. Anak sekaligus dibudayakan untuk bekerja saat ingin mendapatkan sesuatu,” tukasnya.

Dijelaskan Benny, aplikasi punyacelengan sesungguhnya ditujukan untuk segmen keluarga yang memiliki anak dengan usia 7 – 15 tahun (atau SD -SMP) dimana aplikasi ini dapat dimainkan oleh seluruh anggota keluarga (kedua orang tua dan anak-anaknya). Aplikasi produk punyacelengan juga dirancang dengan konsep menarik dan menyenangkan bagi anak.

Terdapat unsur permainan yang dilengkapi dengan 12 karakter yang dipersonifikasi, mereka semua disebut  #keluargapunyacelengan. Dan ini akan melibatkan komunikasi aktif antara anak dengan orangtua.

Presiden Direktur MNC Bank Benny Purnomo mengatakan, aplikasi punyacelengan ini bukan sekedar aplikasi belajar memahami nilai uang bagi anak-anak. Lebih dari itu, aplikasi punyacelengan sesungguhnya menjadi bagian dari program financial literacy dalam mendukung program pemerintah, untuk meningkatkan kesadaran menabung sejak usia dini.

Benny yakin aplikasi pngelolaan keuangan berbasis IT ini akan diterima masyarakat luas dan mampu meningkatkan jumlah nasabah MNC Bank. Bahkan ke depan, bersama produk lain seperti e-money MNC Flazz dan punyakartu bisa menyumbang pertumbuhan dana pihak ketika (DPK) hingga 12 persen pada 2017. (faisal/win)