Sunday, 26 March 2017

Minta Cerai Dikasih Kampak

Selasa, 14 Maret 2017 — 7:00 WIB
kapak

APAKAH Rohadi, 45, sedang main debus, sehingga unjuk kebolehan mau minum racun bersama istri? Ternyata bukan! Ini sekedar wujud kekesalan lantaran Ny. Dasiyah, 40, minta cerai melulu. Tapi mana ada orang mau diajak mati, sehingga istri pun memberontak. Tapi akibatnya tambah sadis, Dasiyah malah dikampak!

Tahun 1980-an pernah lagu “Madu dan Racun” yang dinyanyikan Ari Wibowo meledak di pasaran, mengumandang dari radio swasta dan pemerintah. “Madu di tangan kananmu, racun di tangan kirimu. Aku tak tahu mana yang akan kau berikan padaku…..!” Lagu ini sepertinya menggambarkan keraguan seorang lelaki, bisakah dia hidup bahagia bersama wanita yang sangat dicintai, atau bakal masuk jurang kesengsaraan sehingga makan racun sehari-hari.

Istri Rohadi yang tinggal di Kragilan, Kabupaten Serang, menghadapi kenyataan yang mirip-mirip seperti itu. Pagi-pagi sekitar pukul 08.00, Dasiyah disusul suami yang sambil membawa racun di tangan kiri dan kapak di tangan kanannya. “Engkau yang cantik, engkau yang manja, selalu galak sikapmu. Kau lihat di tanganku, racun di tangan kiriku, kapak di tangan kananku. Aku tak tahu, yang mana yang kuberikan padamu…..!” begitu kira-kira kata Rohadi sambil plesetan lagu Madu dan Racun-nya Arie Wibowo.

Kenapa Rohadi bersikap seperti itu? Sedang kumat atau mau main debus? Bukan, dia memang sedang anti klimaks dalam kemarahannya. Rohadi ingin memberi pelajaran pada istrinya, yang hampir setiap hari merengek-rengek minta carai melulu. Padahal sebagai suami dia masih sangat mencintai Dasiyah. Paling sial, gara-gara permintaan cerai tak diladeni, Dasiyah malah pergi dan tinggal di rumah anak perempuannya. Ini kan kacau, karena Rohadi tak pernah lagi memperoleh kehangatan ranjang di malam hari.

Antara Rohadi – Dasiyah memang tengah berada dalam puing-puing kehancuran rumahtangga ketika mereka ketemu dua tahun lalu. Rohadi duda cerai, dan Dasiyah janda ditinggal mati suami. Lantaran sama platform cinta kasihnya kala itu, keduanya pun sepakat membentuk koalisi permanen dalam sebuah keluarga sakinah. Semoga ini menjadi perkawinannya yang terakhir, dan hidup bagagia hingga ajal tiba entah kapan.

Hari-hari indah bersama Rohadi ternyata tak berlangsung lama. Setelah tahu kelakuan dan jerohan suami barunya, Dasiyah menyesal sekali bersuamikan lelaki ini. Orangnya sangat egois, mementingkan diri sendiri. Beda dengan almarhum suaminya dulu, dia mau berkorban dan siap jadi pahlawan keluarganya. Kalau Rohadi ini apa? “Kalau suamiku dulu pahlawan nasional, Rohadi mah paling-paling pahlawan kesiangan…,” kata Dasiyah belum lama ini.

Selalu dibanding-bandingkan soal kinerjanya dengan suami dulu, tentu saja Rohadi jadi kesal dan kemudian ngamuk. Tapi justru sikap ini menjadikan Dasiyah bertekad pecah kongsi lagi saja daripada diteruskan. Rohadi yang masih sangat sayang pada bininya, tak mau menceraikannya. Setiap dia minta cerai, selalu ditolak. Gantian sekarang Dasiyah yang kesal, dia lalu pergi dan tinggal di rumah anak perempuannya yang sudah menikah.

Aksi “purik” atau tinggalkan keluarga ini membuat Rohadi menjadi kalap. Bayangkan, tanpa istri di sampingnya dia menjadi kedinginan setiap malam. Maka saking frustasinya, dia ingin mati bersama saja. Kemarin pagi dia menyusul Dasiyah, dan diajak mati bersama. Katanya: pilih racun di tangan kiri atau kapak di tangan kanan? Tentu saja Dasiyah tak mau dengan pilihan yang semuanya tidak nyaman itu. “Nggak mau mati bersama, nih rasakan…, pletak!” kata Rohadi sambil mengayunkan kapak ke kepala istrinya. Dasiyah dilarikan ke RSU Serang dan Rohadi diserahkan ke Polsek Kragilan. “Aku masih sayang dia, kok malah minta cerai,” aku Rohadi pada petugas.

Yang sayang kan sampeyan, sononya sudah ogah! (PK/Gunarso TS)