Tuesday, 25 July 2017

Hukum Berat Predator Anak

Kamis, 16 Maret 2017 — 5:30 WIB

PUBLIK mungkin sepakat bila Indonesia saat ini sedang darurat kejahatan seksual terhadap anak. Kawanan predator anak (pedofilia) kini bergentayangan di mana-mana. Mereka tak bosan memangsa para tunas bangsa.

Potret masih berkeliarannya pemangsa anak ini bisa dilihat dari terbongkarnya komunitas pedofilia oleh Subdit Cyber Crime Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya. Satu komunitas ini beranggotakan 7.479 orang dan memiliki jaringan internasional. Mereka saling berkomunikasi sesama anggota dengan merekam gambar seronok anak-anak lalu disebar di medsos.

Polda Metro Jaya memang berhasil membongkar sindikat praktik pornografi yang sudah beroperasi sejak 2016 itu, dan empat pengurus komunitas yang dua diantaranya adalah predator terhadap anak juga sudah ditangkap.

Namun, predator-predator lain harus terus diwaspadai semua pihak, karena mereka masih begentayangan mengincar mangsa. Ingat jumlah anggota satu komunitas pedofilia itu mencapai ribuan orang.

Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) mencatat rentang waktu tahun 2010-2014 saja, telah terjadi 21,6 juta kasus kekerasan terhadap anak di Indonesia, dan 58 persen diantaranya adalah kekerasan seksual terhadap anak.

Wajar saja bila kasus ini pernah mendapat perhatian khusus dari Presiden Jokowi. Presiden pun saat itu langsung meminta penegak hukum memberikan sanksi berat terhadap pemangsa bocah. Bukan itu saja, bahkan pemerintah sempat mewacanakan gagasan hukuman kebiri bagi pelaku kejahatan seksual terhadap anak.

Memang sanksi terhadap pelaku kejahatan terhadap anak sudah diatur oleh UU Nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Pada pasal 28, mengatur setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, bisa dipidana paling singkat tiga tahun dan paling lama 15 tahun tahun penjara.

Tetapi tidak ada salahnya bila mengingatkan penegak hukum agar memberikan hukuman yang paling maksimal bagi pemangsa anak. Selain merusak generasi muda yang nota bene pemegang estafet bangsa, korban juga bakal mengalami trauma berat. Berikan hukuman berat bagi pelaku kejahatan seksual terhadap anak. @*