Wednesday, 29 March 2017

OEI TIONG HAM

Kamis, 16 Maret 2017 — 6:03 WIB

Oleh Harmoko

MARAKNYA penyelundupan narkoba dari Cina ke Indonesia akhir-akhir ini mengingatkan kita pada nama yang melegenda: Oei Tiong Ham, raja candu dari Semarang.

Iya, pria kelahiran Semarang tahun1866 itu mendapat lisensi perdagangan candu dari pemerintah kolonial Belanda. Dia jalani bisnis ini selama 13 tahun, 1890-1993, sebelum akhirnya pemerintah Belanda mencabut semua lisensi perdagangan candu kepada perorangan.

Bisnis opium diambil alih oleh pemerintah kolonial. Tidak ada masalah bagi Oei yang telah menangguk untung. Dari keuntungan bisnis candu, dia membangun kerajaan bisnis gula, mengelola lima perkebunan dan penggilingan tebu di Jawa: Pakis, Rejoagung, Krebet, Tanggulangin, dan Ponen. Semuanya diraih sebelum usianya mencapai 30 tahun.
Di luar bisnis gula, Oei juga menggarap bisnis perkapalan, bank, pabrik tepung tapioka, dan properti yang menggurita pada awal abad ke-20. Seiring dengan itu pemerintah meningkatkan penerimaan pajak.

Merasa diperlakukan tidak adil dalam pemungutan pajak, raja gula dari Semarang itu pindah ke Singapura, 1921. Selain untuk menghindari pajak, Oei ingin mengatur warisannya tanpa harus diganggu oleh pemerintah. Tiga tahun di Singapura, Oei meninggal. Imperium bisnisnya, Oei Tiong Ham Concern, dikelola oleh ahli warisnya, hingga Indonesia memasuki era kemerdekaan.

Pemerintah Indonesia di bawah Presiden Sukarno mencium ada kejahatan ekonomi di balik imperium bisnis warisan Oei. Oei Tiong Ham Concern pun diambil alih oleh pemerintah, 1961. Tamatlah sudah kerajaan bisnis yang dibangun dari bisnis narkoba itu.

Meski begitu, bisnis narkoba belum berakhir. Dari negeri leluhur Oei Tiong Ham, peredaran narkoba mengalir ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Maklum, pemerintah RRC memang mewajibkan warga negaranya memproduksi zat ini untuk kepentingan bahan dasar obat. Oleh jaringan perdagangan narkoba, zat itu disalahgunakan untuk bisnis yang cepat mendatangkan untung.

Mengingat dampak negatifnya yang luar biasa, kita harus memerangi bisnis haram ini. Jangan pula sampai, misalnya, bisnis ala Oei Tiong Ham berulang di Indonesia. Bahaya. ( * )